The Power of “Kepepet”


Tribun Jogja, 20 Januari 2020

Senang sekali ketika kita bertanya pada anak-anak sekarang, apa yang menjadi cita-cita mereka dan mereka menjawab dengan lantangnya mengenai masa depan yang mereka idam-idamkan. Anak saya yang paling kecil, yang masih duduk di kelas 2 SD, dengan tanpa ragu menyebutkan bahwa kelak dia ingin menjadi ahli fisika. Kegemarannya membaca dan kesempatan yang diberikan sekolah untuk mengakses bahan-bahan pustaka, memperkuat gambaran bagi dia mengenai apa sebenarnya yang dimaksud ahli fisika. Buku favorit yang dipinjamnya dari sekolah adalah Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap (RPAL), walaupun tidak semua hal yang dia baca dia pahami, tetapi dia mengetahui keterkaitan beberapa hal dalam buku itu dengan kehidupan nyata. Kemudahan akses pada video youtube memperkaya informasi visual dari beberapa konsep yang sedang ingin diketahui.

Keterbatasan yang ada terkadang dapat memberikan kekuatan tersendiri bagi seseorang untuk memperjuangkan apa yang dicita-citakan. Hal ini terjadi pada saya saat masih kelas 6 SD. Cita-cita saya sederhana hanya ingin sekolah SMP. Walaupun bagi kebanyakan orang keinginan tersebut adalah hal yang biasa dan tidak istimewa, tetapi berbeda dengan saya. Saat saya kelas 6 SD, saya sudah dijodohkan oleh orang tua saya. Pernikahan direncanakan akan dilangsungkan setelah saya lulus SD, sehingga cita-cita sekolah SMP adalah sesuatu yang sangat besar bagi saya saat itu. Beruntung banyak dukungan dari guru saya. Beliau tidak jemu-jemu meperjuangkan agar Bapak saya dapat memberikan kesempatan saya untuk bisa melanjutkan sekolah SMP. Hingga akhirnya Bapak saya menyampaikan bahwa saya boleh sekolah SMP asal bisa diterima di SMP Negeri 1, SMP favorit di kabupaten saya. Syarat dari Bapak saya sangatlah berat, pasalnya belum pernah ada alumni SD saya yang berhasil masuk di sekolah tersebut.

Walaupun hanya sedikit, harapan itu memberikan kekuatan luar biasa. Saya belajar sungguh-sungguh untuk bisa mewujudkan keajaiban. Disela-sela pelajaran di sekolah, guru saya sering memberikan tambahan penjelasan, tambahan latihan kepada saya, agar saya bisa berkesempatan melanjutkan sekolah. Meja saya dan goresan kapur diatasnya menjadi saksi bisu bagaimana saya bersama dengan guru saya sama-sama berjuang agar nilai saya memenuhi syarat untuk diterima di sekolah favorit yang disyaratkan Bapak saya. Betapa bahagianya saya saat akhirnya perjuangan kami tidak sia-sia, saya diterima di sekolah itu dan itu memberi jalan bagi saya untuk keluar dari rencana perjodohan itu.

Bagaimana keterbatasan memberikan kekuatan dalam berjuang, tidak hanya saya rasakan. Sejarah telah membuktikan, bagaimana pekikan Bung Hatta “Merdeka atau Mati” mengobarkan semangat para pejuang bangsa, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dalam peristiwa 10 November di Surabaya. Keterdesakan dan semangat untuk lepas dari penjajah memberikan kekuatan luar biasa sehingga akhirnya para pahlawan kita mampu mengusir pasukan yang mencoba merebut kembali kebebasan kita.

Untuk mendapatkan sebuah kesuksesan, bahkan terkadang keterdesakan justru diciptakan agar para pelaku didalamnya bisa memiliki semangat yang sama untuk meraih kesuksesan. Dalam sebuah cerita berjudul “Sinking ships and breaking woks” dikisahkan bagaimana berabad-abad yang lalu yaitu pada tahun 1519, Cortez, seorang tentara dan penjelajah dari Spanyol berjuang untuk merebut Meksiko dari Suku Aztec yang telah 300 tahun menduduki wilayah tersebut. Cortez mengkondisikan pasukannya yang hanya berjumlah 500 orang untuk menakhlukkan kerajaan dengan 20.000.000 penduduk. Cortez menyadari, ada perasaan takut dari pasukannya dalam menghadapi Suku Aztec. Dia ingin mengondisikan pasukannya agar tidak punya pilihan lain selain berjuang dan menang. Untuk itu dengan sengaja dia memerintahkan untuk membuat lubang pada kapal mereka, sehingga kapal tersebut akhirnya tenggelam. Dengan tenggelamnya kapal tersebut, semua anggota pasukan menyadari bahwa mereka tidak bisa mundur. Mereka hanya bisa bertahan hidup dengan menakhlukkan Suku Aztec bagaimanapun caranya. Dengan berbagai strategi mereka membuat keajaiban, 500 orang anggota pasukan dapat mengalahkan kerajaan dengan 20.000.000 penduduk dalam waktu 3 tahun.

Kisah yang sama di cerita itu yaitu bagaimana Xiang Yu, seorang jendral pasukan Chu di Cina pada abad ke 2 sebelum masehi, dengan hanya 30.000 tentara yang dimiliki, harus menghadapi pasukan Qin yang memiliki tentara dengan jumlah yang lebih besar yaitu 400.000. Xiang Yu tidak takut dan dia yakin akan menang. Untuk menularkan keyakinannya kepada seluruh tentaranya, dia juga menenggelamkan kapal pasukannya dan bahkan dia menghancurkan seluruh peralatan masak dan menyisakan makanan yang hanya cukup untuk 3 hari saja. Dengan kondisi itu, tidak ada pilihan lain bagi pasukannya kecuali menyerang dan menang atau mereka akan mati kelaparan. Dengan cara itu Xiang Yu berhasil membawa kemenangan bagi pasukan Chu walaupun jika dihitung dengan logika seharusnya mereka tidak berkesempatan untuk mendapatkannya.

Cortez dan Xiang Yu bukanlah seorang pahlawan, bukan juga seorang pencinta kedamaian, tetapi mereka menjadi simbol bahwa keyakinan akan keberhasilan akan membuat sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi terwujud. Kemampuan mereka untuk membuat pasukannya terdesak atau dalam bahasa jawa “kepepet” membuat pasukan mereka dapat mengeluarkan segala kekuatan mereka untuk meraih kemenangan. Keyakinan dan strategi mereka untuk sukses dapat kita contoh dan kita terapkan dalam kehidupan kita.

Dalam proses pendidikan, yang harus dipikirkan oleh para pendidik adalah bagaimana menciptakan kondisi-kondisi yang menantang bagi anak didik mereka sehingga anak-anak tersebut mengetahui apa yang harus diperjuangkan dan yang terpenting mereka dapat mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk keberhasilan perjuangan mereka. Pendidik harus memikirkan kapal apa yang harus ditenggelamkan, peralatan apa yang dihancurkan sehingga “the power of kepepet” dari para anak didiknya dapat keluar dan kesuksesan dapat mereka raih.

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *