Diremehkan Bukan Berarti Pecundang


Tribun Jogja, 25 November 2019

Tidak selalu perjalanan kita mudah dan menyenangkan. Tidak selamanya kita bertemu dengan orang-orang yang mendukung dan menghargai kita. Terkadang kita menemukan orang yang dengan mudahnya mencibir yang kita lakukan, atau memandang sebelah mata terhadap kemampuan kita. Saya pun pernah mengalami.

Pada saat kuliah, saya termasuk mahasiswa yang agresif. Sering mengajak teman-teman dan kakak angkatan untuk berdiskusi dalam banyak hal. Saya mencermati kelebihan dari setiap mereka dan mengupayakan untuk bisa memiliki bahan yang relevan untuk bisa didisusikan dengan mereka saat bertemu di sela-sela jam kuliah.

Pernah pada suatu semester saya nekad mengambil matakuliah pilihan yang pesertanya hampir semua adalah kakak angkatan. Saat itu ada tugas kelompok, maka mau tidak mau saya berkelompok dengan kakak-kakak angkatan. Saya dapat kelompok yang kebetulan mereka semuanya laki-laki dan jago-jago dalam pemrograman, mereka 2 tingkat diatas saya. Hampir semua anggota kelompok itu senang dengan kehadiran saya, dan memang saya sudah mengenal mereka dan sering diskusi dengan mereka. Tapi ada satu anggota kelompok, teman dekat mereka yang baru saja bergabung, melontarkan komentar yang kurang nyaman, “Kok sama perempuan sih, paling cuma numpang nama tapi tidak ikut mengerjakan”.

Rasanya sakit hati sekali mendengar kalimat itu. Saat itu saya sampai berdiri dan menggebrak bangku kuliah saya. Rasanya sangat tidak terima dengan predikat itu. Untung beberapa anggota kelompok lain segera melerai sehingga tidak terjadi pertikaian lebih jauh.

Mendapat perlakuan seperti itu tidak membuat saya bergeming untuk keluar dari kelompok itu, justru saya merasa harus tetap berada di kelompok itu untuk membuktikan bahwa saya bisa mengerjakan tugas kelompok dengan baik secara proporsional. Untuk melakukan itu tentu bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus saya pelajari, banyak hal harus saya diskusikan sampai akhirnya saya bisa menyelesaikan bagian tugas saya dengan baik.

Tidak berhenti sampai tugas itu, saya berupaya membuktikan bahwa saya adalah orang yang pantas untuk diperhitungkan. Saat itu saya dapat membuktikan saya dapat bergabung dalam tim programmer di unit pelayanan teknis perguruan tinggi saya dibawah arahan dosen matakuliah tersebut. Diantara kurang lebih 10 orang programmer yang bertugas untuk menyiapkan sistem registrasi mahasiswa baru, saya adalah satu-satunya programmer perempuan dalam tim tersebut dan saya adalah satu dari dua anggota tim yang dari angkatan bawah. Saya dapat membuktikan saya bisa menyelesaikan tugas saya sebagai programmer dengan baik. Bahkan setelah selesai pekerjaan itu saya juga berhasil mendapatkan proyek pembuatan sistem informasi lain dengan saya sebagai pemimpin timnya.

Setelah waktu berlalu, rasa sakit hati saya kepada kakak angkatan saya yang telah meremehkan saya pun sudah hilang. Sekarang yang ada justru rasa terimakasih, karena dia sudah berhasil membangkitkan “ke-aku-an” saya dan dengan itu saya justru meloncat lebih cepat untuk bisa menguasai banyak hal. Mungkin, jika saat itu dia tidak melontarkan kalimat yang menyakitkan hati saya, maka saya akan terus berada dalam zona nyaman dan tidak memacu diri saya untuk berbuat lebih dari yang lain.

Hal seperti ini tentu tidak hanya saya yang mengalami. Banyak cerita orang-orang yang dulu saat sekolah dianggap nakal, tidak diperhitungkan tetapi justru setelah dewasa mereka bisa menunjukkan keberhasilan diatas rata-rata.

Ini tentu menjadi pelajaran tersendiri baik kita sebagai korban yang diremehkan atau sebaliknya. Jangan mudah jatuh dengan pandangan negatif dari orang lain. Kita yang akan merugi ketika kita memilih mundur atau membiarkan mereka mendapat bukti bahwa kita memang lemah dan tidak mampu. Stigma atau pandangan negatif mereka terhadap kita, harus dapat kita ubah menjadi energi untuk membuat kita jauh lebih baik.

Sebaliknya dalam berinteraksi dengan orang lain terkadang kita juga menemukan orang-orang yang menurut kita dalam hal tertentu kurang mampu. Kita harus dapat menahan diri untuk tidak memberikan komentar negatif, karena pandangan kita saat ini belum tentu benar dikemudian hari. Bisa jadi orang-orang yang kita pandang sebelah mata justru akan menjadi pemimpin-pemimpin bidang itu di masa yang akan datang.

Sebagai dosen, guru atau pendidik lain, hal ini juga menjadi sangat penting. Bersikap bijak, menghargai setiap peserta didik dan terus memberikan kesempatan dan motivasi untuk mereka meraih potensi terbaik mereka tentu akan lebih baik dari pada mengolok-olok ketidakmampuan mereka.

Namun ada kalanya dosen atau guru dengan sengaja membangkitkan “ke-aku-an” peserta didik dengan seolah-olah meremehkan mereka, demi membuat mereka meloncat lebih tinggi dan berjuang untuk membuktikan sesuatu kepada dosen atau guru tersebut. Tapi tentu dosen atau guru tersebut harus bijak melihat karakteristik dari peserta didik yang sedang dihadapi. Karena ada peserta didik yang bisa mengubah cemoohan menjadi prestasi, tetapi juga ada yang justru semakin terpuruk sehingga dia akan menemui kegagalan karenanya.   Pada momen hari guru nasional ini, semoga kita semua bisa introspeksi diri, terus bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak didik kita. Selamat hari guru nasional.

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *