Kebaikan yang Selalu Terkenang


Tribun Jogja, 11 November 2019

Pada artikel saya yang diterbitkan di Tribun Jogja Senin, 27 Mei 2019 saya bercerita tentang kebaikan seorang sopir bus yang mau membawa saya ke sekolah dalam keadaan sepenuh apapun busnya. Pada artikel ini saya akan menceritakan kisah kebaikan lain dari seorang sopir colt pick up langganan saya.

Ada alternatif kendaraan lain selain Bus Sedayu jurusan Blora-Solo yang mau membawa saya ke sekolah, yaitu sebuah colt pick up dengan bak tertutup di belakang, yang biasa digunakan sebagai angkutan oleh para pedadang. Begitu sulitnya mencari kendaraan umum di daerah saya. Ketika mereka tiba di tempat saya menunggu, biasanya keadaannya sudah penuh sesak, begitupun dengan colt pick up ini. Kami para pelajar tidak lagi malu berdesak-desakan dengan para pedagang demi bisa sampai sekolah tepat waktu.

Pada suatu hari di awal-awal saya SMP, saya ikut kegiatan ekstra kurikuler yang mengharuskan saya pulang menjelang maghrib. Hampir semua teman sudah pulang, tinggallah saya berdua dengan seorang teman yang berasal dari daerah berbeda. Sekolah saya berjarak sekitar 2 km dari tempat pemberhentian bus. Saya akan melanjutkan naik bus kea rah Wirosari atau Blora dengan jarak sekitar 6-7 KM sedangkan teman saya akan mengambil jurusan lain dengan jarak rumah yang lebih jauh.

Sore itu ketika kami sedang berjalan bersama menuju tempat pemberhentiaan bus, saya mengecek saku. Betapa terkejutnya saya, ternyata saya tidak membawa uang. Entah ketinggalan, entah terjatuh, saat itu saya tidak bisa mengingatnya. Saya mencoba mencari di dalam tas dan tidak saya temukan uang 1 rupiah pun disana. Saya perlu uang Rp. 100,- atau terkadang ada yang meminta Rp. 200,- untuk bisa naik bus sampai rumah saya. Saya bingung bukan main saat itu, tidak terbayang oleh saya kalau harus berjalan kaki sampai rumah.

Saat itu saya memberanikan diri untuk meminjam uang kepada teman yang sedang berjalan bersama saya. Tapi mungkin karena dia tidak percaya, atau memang dia juga sedang tidak memiliki uang, dia tidak bersedia meminjami saya. Sementara sebagai anak baru saya belum mengetahui rumah teman-teman saya di sekitar sana yang bisa membantu saya.

Saya berjalan sambil kebingungan, bagaimana caranya saya bisa membayar ongkos bus untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan saya berdoa, “Ya Allah berikan pertolongan-Mu kepadaku”. Sampai akhirnya setelah tiba di tempat pemberhentian bus dan bus yang akan melewati rumah saya tiba, dengan canggung, ragu dan takut saya naik bus itu.

Tidak disangka, didalam bus itu saya bertemu dengan sopir colt pick up langgganan saya. Saya kenal baik karena memang sering ngobrol dengannya. Selain dia memang sering membawa saya saat berangkat sekolah, saya juga sering ikut dia sepulang sekolah. Saat saya SMP, Ibu saya jualan sembako di rumah. Adek saya masih kecil dan sering rewel ketika ditinggal atau diajak belanja ke pasar. Akibatnya, Ibu saya sering meminta saya sekalian belanja ke pasar sepulang sekolah. Saya sering membawa berkarung-karung kelapa, berderigen-derigen minyak, dan juga belanjaan lain. Saya akan dibantu para pelayan toko yang saya beli atau buruh panggul yang saya temui di pasar. Barang-barang yang saya beli dari beberapa toko, saya minta diantarkan ke salah satu halaman toko langganan saya yang dekat dengan pemberhentian colt. Setelah colt datang saya akan dibantu kondekturnya untuk memasukkan barang-barang saya kedalam colt. Sambil menunggu colt penuh, saya sering berbincang dengan kondektur, sopir atapun peumpang lainnya.

Di sore itu, bertemu dengan sopir colt itu membawa harapan tersendiri. Walaupun bibir ini pun rasanya tak sanggup berucap untuk minta tolong membayar ongkos bus saya. Dia menyapa saya, seperti biasa kami berbincang tentang banyak hal. Sampai akhirnya kondektur bus datang dan meminta penumpang membayar ongkos bis, dengan sigap sopir colt itu mengeluarkan uang dan membayar ongkos bis sambil berkata “ini sama adek ini ya”. Tidak ada kata lain yang bisa saya ucap selain terima kasih. Terima kasih yang benar-benar tulus sambil dalam hati saya berdoa agar Allah membalas kebaikan orang itu dengan rejeki yang melimpah. Sunguh dia sudah menyelamatkan harga diri saya. Tanpa dia tau bahwa saat itu saya sedang tidak bisa membayarkan ongkos bis, dia membantu saya tanpa saya minta. Kebaikan itu selalu saya ingat.

Kebaikan-kebaikan yang kita terima, merupakan pelajaran hidup agar kita selalu bijaksana dan memberikan kebaikan lain dalam setiap langkah kehidupan kita. Terkadang hal yang kita anggap sepele, bisa jadi sangat bermakna bagi orang lain. Hal yang sebenarnya tidak berat untuk kita lakukan, bisa jadi dapat menyelamatkan masa depan seseorang.

Hal itu juga yang menjadi salah satu penyemangat bagi para dosen untuk bisa memberikan yang terbaik pada mahasiswa-mahasiswanya. Bahkan sekedar sapaan, senyuman ataupun waktu konsultasi. Terkadang kesibukan membuat dosen sulit memberikan banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk bisa berdiskusi. Namun mengingat betapa berartinya waktu yang disediakan bagi mereka, maka dosen akan mengusahakan untuk tetap dapat memberikan layanan kepada para mahasiswanya. Hal ini kadang terasa setelah para mahasiswa lulus dan mereka sukses di kemudian hari. Saat ada kesempatan bertemu, ada saja cerita yang mereka sampaikan tentang hal kecil yang pernah kita berikan untuk mereka dan itu sangat bermakna dalam kehidupan mereka.

Tidak harus berperang untuk dapat menjadi seorang pahlawan. Dalam setiap langkah kita selalu ada kesempatan bagi kita  untuk memberikan kebaikan pada orang-orang di sekitar kita. Selamat hari Pahlawan untuk kita semua.

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *