Membuka Hati di Masa Pandemi

Tribun Jogja, 6 Juli 2020

Pandemi Corona yang melanda dunia termasuk Indonesia telah memporak-porandakan berbagai tatanan kehidupan yang sudah tertata apik sebelumnya. Jatuhnya korban akibat positif Covid 19 bukan satu-satunya dampak dari pandemi ini. Kehidupan ekonomi luluh lantak dengan dibatasinya pertemuan langsung antar individu apalagi dalam kelompok besar. Roda ekonomi seolah berhenti berputar, padahal kebutuhan konsumsi, cicilan, pendidikan, dll tak bisa ditahan. Berbagai bentuk usaha yang tak bisa kembali dijalankan dalam masa pandemi, memaksa perusahaan merumahkan banyak pegawainya. Tentu saja pengurangan pendapatan atau bahkan hilangnya sumber pendapatan seseorang menjadi salah satu mata rantai dalam kehidupan ekonomi, yang akan mempengaruhi juga mata rantai lainnya termasuk bidang pendidikan.

Banyak mahasiswa yang orangtuanya atau bahkan dirinya terdampak secara ekonomi, mengkhawatirkan keberlanjutan studi lanjut mereka. Jangankan untuk membiayai pendidikan, untuk memenuhi kehidupan pokok sehari-hari mungkin ada yang kesulitan. Keadaan ini jika dibiarkan bisa menyebabkan banyak mahasiswa putus kuliah. Perjuangan mereka selama bertahun-tahun sebelumnya harus berhenti tanpa hasil gara-gara corona.

Bersyukur pemerintah segera turun tangan dengan diterbitkannya Keputusan Mendikbud No 25 Tahun 2020 yang mengatur tentang penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri dan juga pemberian beasiswa melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta.

 Selain itu masing-masing perguruan tinggi swasta juga banyak yang membuat kebijakan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa, seperti yang dilakukan Universitas AMIKOM Yogyakarta yaitu dengan memberikan kesempatan frekuensi cicilan pembiayaan yang lebih banyak kepada mahasiswa, sehingga beban cicilan saat ini akan menjadi lebih ringan. Beberapa skema beasiswa juga diberikan kepada mahasiswa.

Permasalahan di pendidikan tinggi pada masa pandemi tentu bukan hanya masalah ekonomi. Proses pembelajaran pun harus diseusaikan dengan keadaan saat ini. Kalau sebelumnya perkuliahan teori dan praktikum dilaksanakan di kampus dengan tatap muka langsung, saat ini cara itu tak bisa dilakukan lagi. Pembelajaran dalam jaringan (daring) menjadi wajib untuk mengatasi keterbatasan tatap muka.

Cara baru tentu saja memerlukan penyesuaian-penyesuaian baik dari lembaga, dosen ataupun mahasiswanya. Kesulitan-kesulitan tak dapat dihindarkan dalam proses mencari bentuk ideal baru. Tak ayal hal ini akan menimbulkan gesekan, kecurigaan, tekanan, dll antar sivitas akademika. Jika hal ini tidak diberikan ruang yang baik maka akan terjadi ketegangan-ketegangan yang akhirnya jadi ketidaknyamanan. Untuk itu perlu adanya mekanisme komunikasi, untuk menyalurkan pendapat, keluhan, dll. Dengan komunikasi yang baik diharapkan akan ada titik temu penyelesaian yang memberikan kenyamanan bagi semua.

Di Universitas AMIKOM Yogyakarta, hal seperti ini diwadahi dalam dialog mahasiswa. Kegiatan yang memang teragenda rutin setiap tahun ini, menjadi media untuk menyelaraskan harapan dan keinginan mahasiswa dengan kemampuan lembaga untuk memfasilitasinya.

Pada tahun ini, kegiatan dialog mahasiswa yang dilaksanakan pada Hari Sabtu, 4 Juli 2020. Kegiatan dihadiri oleh Presiden Mahasiswa, Ketua pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), perwakilan Organisasi mahasiswa dan perwakilan kelas. Dari pihak lembaga dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Ketua Program Studi dan Pimpinan Direktorat. Kegiatan ini didahului dengan penggalangan aspirasi mahasiswa yang dikomandoi oleh BEM. Aspirasi ini kemudian dibahas bersama untuk dicari solusi terbaiknya antara peserta dialog dari mahasiswa dan peserta dialog dari lembaga.

Komunikasi semacam ini tentu tidak hanya dilakukan pada kegiatan dialog resmi yang terjadwal. Komunikasi dosen dengan pengelola program studi, antara mahasiswa dengan dosen bahkan sesama mahasiswa akan sangat penting agar kita bisa saling tau apa yang menjadi permasalahan dan kendala, sehingga tidak ada salah prasangka dan kita bisa saling bersinergi mencari penyelesaian masalah secara bersama-sama.

Memikirkan sendiri segala kesulitan yang ada dapat menyebabkan gangguan fisik dan mental kita, oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk saling berkomunikasi, saling membuka hati untuk dapat melewati masa sulit ini bersama-sama bahkan bisa mendapatkah hikmah dibalik ini semua. Bersama kita pasti bisa…

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *