Mencuri Start Bekerja

Tribun Jogja, 20 Juli 2020

Setiap orang tua pasti akan memperjuangkan sekuat tenaga agar anak-anaknya dapat meraih apa yang menjadi cita-cita mereka, walau dibalik itu semua terkadang ada tetesan darah dan air mata untuk mewujudkannya. Salah satu cara untuk meraih sukses di masa depan adalah melalui perkuliahan.

Tidak semua orang dapat beruntung merasakan indahnya masa kuliah. Saya termasuk salah satu orang yang berkesempatan menikmatinya. Dengan berbagai tantangan, pada tahun 1997 akhirnya saya berhasil meraih status yang hampir saya lupakan, menjadi seorang mahasiswa.

Keterbatasan ekonomi membuat saya harus betul-betul selektif memilih tempat saya menempa diri. Dengan biaya kuliah sebesar RP. 250.000,- per semester saja, rasanya masih malu diri ini ketika pulang ke rumah meminta pada orang tua untuk membayarnya. Belum lagi biaya hidup di kota yogya yang jauh lebih besar dari biaya kuliahnya. Masih kental dalam ingatan saya saat adek saya yang paling kecil, yang saat itu masih duduk di bangku SD, berlari kecil menyambut saya pulang sambil berkata “Mesti bali arep njaluk sangu, nek wis gedhe ki golek duit dewe” yang artinya “Pasti pulang mau minta uang saku, kalau sudah besar itu cari uang sendiri”.

Hal itu yang membuat saya tidak berfikir dua kali ketika ada kesempatan untuk bekerja sebagai salah satu programmer di proyek pengembangan sistem informasi akademik di tempat saya kuliah yang dikomandani dosen favorit saya. Bersama dengan kakak-kakak angkatan yang menjadi idola saya karena kehebatan mereka, saya juga bersama dengan teman seperjuangan yang masih sama-sama belajar untuk menata perintah agar form-form pada aplikasi kami dapat bekerja.

Di ruangan besar itu, waktu terasa begitu cepat berlalu. Deadline pekerjaan dan jadwal perkuliahan yang terus berkejaran, membuat kami terkadang harus mengurangi waktu tidur. Tapi sungguh kami menikmatinya. Sesuatu yang seperti diawang-awang saat saya pelajari di kelas, di ruang programmer itu semuanya menjadi nyata.

Bahagia rasanya saat hari itu tiba. Saat aplikasi kami digunakan oleh para petugas akademik dari rektorat dengan ribuan mahasiswa yang antri didepannya. Aplikasi yang masih belum sempurna, memaksa kami ikut berjibaku menyelesaikan beberapa permasalahan yang muncul di lapangan. Situasi yang mengasah ketangkasan kami untuk segera mengambil keputusan dan mengeksekusinya saat itu juga.

Pengalaman itu memberikan keberanian kepada saya dan beberapa teman untuk mencari proyek sendiri setelahnya. Rasa bangga tidak terkira saat setiap pengguna aplikasi kami merasa puas dengan apa yang telah kami kerjakan dan lembaran uang dapat menyambung hidup tanpa harus tergantung sama orang tua, bahkan bisa untuk sekedar membeli oleh-oleh saat pulang kampung menengok mereka.

Pengalaman itu jugalah yang membuat saya merasa mudah melalui rangkaian ujian untuk bergabung di AMIKOM. Saat seleksi pertama, kami diberi waktu 1 jam untuk menuliskan artikel tentang teknologi bidang infomatika. Saya yakin bagi mereka yang tidak punya pengalaman di lapangan, ini bukanlah hal yang mudah. Tapi dengan berbagai permasalahan dalam pengembangan aplikasi yang saya lalui, di laboratorium komputer itu, jari ini seolah langsung bisa menari menuangkan berbagai pengalaman nyata. Tak ayal berlembar-lembar cerita dapat terkumpulkan dalam waktu yang telah ditentukan.

Dalam tahap seleksi selanjutnya masing-masing peserta yang terpilih, diminta mempresentasikan apa yang telah ditulisnya dihadapan sekitar 5 orang dosen senior. Beruntung saya memiliki pengalaman berhadapan dengan client saat mempresentasikan proposal mengenai produk saya. Pengalaman berdebat dengan rekan 1 tim mengenai teknologi yang digunakan, memperkuat argumentasi saya untuk menjawab setiap pertanyaan dari tim penguji. Alhasil, diantara 63 pelamar, saya satu-satunya pelamar dari luar AMIKOM yang terpilih untuk bergabung disana.

Pengalaman saya dan dosen-dosen lain di Universitas AMIKOM Yogyakarta diramu dengan visi dari AMIKOM untuk menciptakan para pengusaha muda dan para profesional di bidang IT ikut mengantarkan mahasiswa-mahasiswa AMIKOM memiliki berbagai pengalaman serupa. Jika kebanyakan orang berfikir untuk mencari kerja setelah lulus kuliah, AMIKOM mengajarkan mahasiswa untuk mencuri start dalam bekerja. AMIKOM mendorong dan memfasilitasi mahasiswa untuk memulai membuat usaha atau bekerja saat mereka masih menjadi mahasiswa.

AMIKOM memiliki berbagai program untuk enterpreneur, memiliki inkubator yang memberikan kesempatan mahasiswa mengembangkan berbagai inovasi bidang IT, memiliki badan usaha yang digunakan sebagai tempat mahasiswa belajar bekerja, dan memiliki banyak rekanan perusahaan yang menampung mahasiswa untuk magang. Kreatifitas mahasiswa juga diwadahi dalam berbagai kompetisi baik yang diselenggarakan lokal oleh AMIKOM maupun ajang kompetisi yang lebih tinggi, bahkan sampai level internasional. AMIKOM juga memiliki Direktorat Business Placement Center, yang memiliki program untuk mengawal dan menjembatani mahasiswa dengan dunia usaha. Proses rekruitmen berkala dilakukan oleh berbagai perusahaan di AMIKOM. Pemantauan juga dilakukan oleh direktorat ini untuk memastikan ketercapaian visi lembaga. Usaha AMIKOM ini diganjar dengan bintang 5 (bintang tertinggi) pada parameter employability (keterserapan di dunia kerja) dari Quacquarelli Symonds (QS) Star. QS Star adalah lembaga internasional yang melakukan pemeringkatan universitas di seluruh Indonesia dan dunia. Semoga predikat ini semakin memperkuat AMIKOM bersama para dosen dan mahasiswanya untuk terus berkarya nyata, memberikan sumbangsih untuk negeri kita tercinta.

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *