Berkorban Demi Masa Depan

Tribun Jogja, 3 Agustus 2020

Hari Raya Idul Adha Tahun 1441 H baru saja kita rayakan. Hari raya yang berbeda dari biasanya. Jika tahun sebelumnya lebih dari 200 ribu warga negara Indonesia bisa berada di Muzdhalifah, tahun ini tidak ada jemaah haji Indonesia yang dapat berangkat dari Indonesia untuk menjalankan rukun islam yang ke 5 ini. Ada 13 warga negara Indonesia yang diberi kesempatan istimewa melaksanakan ibadah haji tahun ini, tapi itu hanya untuk mereka yang memang sudah tinggal dan bekerja di negeri petro dollar tersebut. Larangan keberangkatan jemaah haji Indonesia tak lain dan tak bukan karena adanya pandemi corona yang melanda dunia.

Walaupun tidak berhasil berangkat haji tahun ini, tidak menghalangi kaum muslimin menjalankan ibadah kurban. Masih banyak yang mau menyisihkan hartanya demi berkurban sapi atau kambing, untuk dapat dirasakan bersama saudara-saudara kita yang belakangan ini mungkin lebih prihatin karena kondisi ekonomi yang ada.

Wabah corona telah membuat banyak hal menjadi berbeda. Social distancing yang kita jalankan membatasi cara kita dalam melaksanakan ibadah, melakukan pekerjaan ataupun melaksanakan proses belajar mengajar. Musibah yang ada menjadikan ujian dan tantangan bagi kita semua untuk dapat melaluinya.

Dalam keadaan seperti ini semua dari kita pasti akan memilah dan memilih untuk melakukan hal-hal yang lebih prioritas dibandingkan dengan sesuatu yang sifatnya untuk mencari kesenangan. Salah satu dampak dari wabah corona berupa resesi ekonomi telah menjadi nyata di beberapa negara, dan ini menjadi tantangan bagi negeri kita tercinta untuk dapat menghindarinya. Dan seandainya itu terjadi, kita harus bersiap untuk menghadapi dan melewatinya.

Kondisi ini tentu menjadi kegalauan tersendiri bagi mereka-mereka yang saat ini sedang merencanakan studi lanjut. Mereka yang baru lulus SMA atau SMK, mereka yang baru saja selesai yudisium jenjang Sarjana, atau mereka yang telah lama merencanakan studi lanjut S2 dan S3. Bagi mereka yang terdampak secara ekonomi dari wabah corona ini dihadapkan pada pilihan harus berdiam diri dulu sampai dengan keadaan ekonomi membaik atau sebaliknya segera studi lanjut dan hal itu justru dijadikan sebagai salah satu alat untuk memperbaiki keadaaan. Jika ingin menunggu, pertanyannya adalah sampai kapan semua ini akan berakhir? Sampai kapan keadaan akan kembali seperti sedia kala? Pada saat semua itu telah kembali sudah berapa usia kita? Apakah kita masih memiliki semangat yang sama dengan saat ini? Apakah kita masih memiliki kesempatan seluas sekarang?

Bagi sebagian orang, kondisi yang sulit tidak hanya terjadi karena Corona. Seperti yang juga saya alami dan pernah saya ceritakan dalam video di youtube channel saya https://youtu.be/5V_Wl3_bkqI. Keterbatasan ekonomi memaksa saya harus memilih antara tanah yang nantinya menjadi bagian saya ataukah kuliah.

Saya tinggal di kampung. Adalah hal yang lazim di kampung, orang tua akan menyiapkan petak sawah yang akan diberikan kepada anaknya, saat mereka menikah. Petak sawah tersebut bisa dijadikan tempat tinggal baru atau menjadi tempat mata pencaharian anaknya.

Saat mengutarakan keinginan untuk kuliah, yang kami menyadari akan perlu banyak biaya disana, terbayang sudah oleh orang tua saya bahwa tanah yang telah disiapkan untuk saya pastilah harus direlakan untuk bisa membiayai kuliah saya. Sebenarnya SPP saya waktu itu tidak banyak, karena saya berhasil masuk perguruan tinggi negeri yang saat itu memang betul-betul hampir tidak berbiaya. SPP saya waktu itu hanya sebesar Rp. 250.000,- per semester itupun saya mendapat beasiswa sehingga tidak perlu membayarnya. Namun biaya kuliah tentu tidak hanya SPP, yang lebih besar justru biaya hidupnya.

Orang tua saya rela mengorbankan tanah kesayangannya, yang diperoleh dari tetesan keringat sebagai seorang petani. Semua itu dilakukan demi tercapainya cita-cita saya menjadi seorang sarjana yang saya yakini saat itu akan menjadi jalan untuk merubah taraf kehidupan kami.

Saat ini, tentulah banyak orang tua sedang menghadapi pilihan yang sama dengan orang tua saya saat itu. Mengorbankan sebagian harta mereka untuk tercapainya cita-cita anak mereka. Lalu bagaimana kalau sudah tidak ada yang bisa dikorbankan? Masih adakah jalan untuk meraih cita-cita?

Universitas AMIKOM Yogyakarta saat ini memberikan peluang bagi calon mahasiswa D3 dan S1 dari keluarga tidak mampu untuk mengajukan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Dalam program ini mahasiswa mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp. 2.400.000, per semester untuk biaya pendidikan. Kekurangan biaya pendidikan akan ditanggung oleh Universitas AMIKOM Yogyakarta. Selain itu, mahasiswa juga akan mendapat biaya hidup sebesar Rp. 700.000,- per bulan. Kesempatan ini masih terbuka s.d tanggal 15 Agustus 2020 dan informasinya dapat diakses di http://kemahasiswaan.amikom.ac.id/index.php/main/berita/4739/pengumuman-beasiswa-kip-calon-mahasiswa-baru-t.a-2020/2021.

Untuk mahasiswa S2, Universitas AMIKOM Yogyakarta memiliki program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), yang proses pembelajarannya dilakukan full online dari mana saja. Dengan demikian tambahan biaya hidup untuk menyelesaikan pendidikan yang biasanya justru lebih besar dari biaya pendidikannya dapat ditiadakan. Jadwal kuliah diatur sedemikian rupa sehingga mahasiswa masih tetap bisa bekerja. Untuk membantu calon mahasiswa, jumlah cicilan biaya pendidikan juga diminimalkan, hanya dengan 6jt rupiah saja. Saat ini pendaftaran masih dibuka sampai dengan tanggal 23 Agustus 2020. Informasi lengkap dapat diakses di s.amikom.id/pjj.

Mungkin beberapa perguruan tinggi lain juga menyiapkan bantuan serupa sehingga proses pendidikan tetap terus berjalan untuk menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa, yang akan membawa negeri kita ke arah lebih baik dengan berbagai inovasi dan kreativitas mereka. Tidak ada yang tidak mungkin, jika kita terus berusaha. Bersama kita bisa.

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *