Berbagi dengan Hati

Tribun Jogja, Senin 14 September 2020

Tahun ajaran baru telah tiba. Perkuliahan di perguruan tinggi pun segera akan dimulai. Setelah proses penerimaan mahasiswa baru dan juga proses rekapitulasi nilai untuk mahasiswa lama, adalah hal yang lumrah bagi pengelola program studi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyiapkan pelaksanaan perkuliahan di semester berikutnya. Demikian juga yang dilakukan pengelola program studi di pascasarjana Universitas Amikom Yogyakarta (AMIKOM).

Keadaan pandemi corona yang masih melanda, memaksa pengelola memutar otak untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang baik walaupun dengan segala keterbatasan. Pembelajaran semester ini akan tetap dilaksanakan secara online sebagaimana arahan dari kemendikbud dan surat edaran rektor. Bedanya dengan pembelajaran online pada semester sebelumnya adalah bahwa semester ini harus lebih baik karena kita sudah memiliki waktu untuk mempersiapkannya.

Berbagai pelatihan dilaksanakan baik untuk pengelola, dosen ataupun tenaga kependidikan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran online yang berkualitas. Ada satu point yang ingin saya bagi dalam artikel ini, yaitu petuah dari Rektor AMIKOM, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M, atau biasa dipanggil Prof Yanto,  dalam paparan beliau tentang bagaimana membuat video materi yang sukses dan membahagiakan. Video materi yang dimaksud disini adalah video untuk kita membagi apa yang kita kitahui kepada orang lain, termasuk kepada mahasiswa-mahasiswa di kelas kita.

Beliau memulai membahas dari terminologi sukses. Ciri dari orang sukses diantaranya adalah memuji orang lain, memaafkan orang lain, mendorong orang lain untuk sukses, melihat sisi jenaka atau sisi positif dari sesuatu, membicarakan gagasan dan bukan membicarakan orang, membaca secara teratur, mengosongkan gelas sehingga siap belajar dari siapapun, memuji kontribusi orang lain, merangkul perubahan dan mempunyai visi, misi serta rencana.

Saya mencoba memaknai apa yang beliau sampaikan bahwa jika kita ingin membuat video materi yang sukses maka kita harus bisa mengakui dan berbesar hati memberikan pujian atas keberhasilan orang lain dalam bidang yang sedang kita bahas, termasuk keberhasilan orang lain dalam membuat video serupa dengan yang kita buat. Apa yang kita buat mungkin tidak sempurna, jika ada yang menyampaikan hal yang tidak nyaman terkait video kita, hendaklah ini menjadi refleksi bagi kita untuk terus bisa membuat karya yang lebih baik. Kita tidak boleh menyisakan kemarahan atau dendam atas masukan dari orang lain. Ketika kita membuat video, kembalikan pada tujuan agar orang lain menjadi paham, agar apa yang kita sampaikan bisa menjadi bekal bagi orang lain yang melihat untuk meraih kesuksesan. Hal-hal yang pernah terjadi hendaklah dapat kita jadikan pelajaran, pengalaman hidup kita atau orang lain baik itu tentang kesuksesan ataupun kegagalan tetap akan menjadi sesuatu yang bermakna baik bagi kita sendiri maupun bagi orang lain. Dalam video kita juga akan baik kalau yang kita bagi adalah ide atau gagasan untuk sesuatu yang lebih baik, bukan fokus membicarakan kekurangan pihak lain. Ilmu dan teknologi terus berkembang, jangan merasa sudah menjadi paling hebat agar kita selalu siap menerima ilmu baru sehingga karya kita akan terus menjadi lebih baik. Siapkan selalu diri kita untuk bisa menghadapi perubahan termasuk dalam metode dan gaya penyampaian materi kita. Tentukan visi dan tetapkan strategi untuk mengubah mimpi kita menjadi nyata.

Hal lain yang tak kalah menarik dari yang disampaikan Prof. Yanto adalah terkait terminologi kedua yaitu terkait kebahagiaan. Berbagi dengan orang lain termasuk berbagi materi melalui video adalah dalam rangka kita ingin meraih kenikmatan yang kita sebut bahagia. Tetapi kita harus meluruskan niat kita. Ada beberapa tahap kenikmatan yang beliau sampaikan. Kenikmatan yang paling rendah adalah kenikmatan setan. Bahwa dalam membuat karya ternyata membuat kita merasa khawatir, sombong, sering menyesali sesuatu atau bahkan menimbulkan kedengkian dihati kita kepada orang lain. Kita harus mampu mengendalikan diri kita, menghindarkan diri dari neraka dunia karena kenikmatan setan yang kita dapatkan.

Apa yang perlu kita lakukan agar karya kita menjadi karya yang membahagiakan adalah dengan menahan ego, sehingga kita berprestasi dengan karya-karya kita. Bahkan yang lebih tinggi lagi adalah tidak sekedar prestasi yang dicari, tetapi bagaimana kita bisa memberikan kontribusi dan akhirnya memberikan manfaat bagi orang lain.

Pada kesempatan lain, Prof. Yanto menyampaikan bahwa gaya dan kemampuan orang itu berbeda. Kita bisa menggunakan gaya kita sendiri sesuai dengan kemampuan kita. Namun untuk dapat menjadi seorang dosen yang baik, hal terpenting adalah kita dapat mengajar dengan hati. Walaupun kita ada keterbatasan, tapi apa yang terpancar dari hati kita akan dapat dirasakan oleh peserta didik kita.

Bagi saya apa yang disampaikan oleh Prof. Yanto ini sangat penting dan selaras dengan diskusi saya dengan pemateri dalam pelatihan lain yaitu Ibu Dr. Sri Suning Kusumawardani, dosen dan pengurus Pusat Inovasi dan Kebijakan Akademik UGM. Kami sepakat bahwa dari banyaknya hal terkait ilmu pedagogy, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seni menjadi guru, termasuk didalamnya sebagai dosen, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berbagi dengan hati. Segala hal yang kita pelajari dan siapkan, akan dapat dimplementasikan dan diterima dengan baik kalau kita meniatkan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita, bukan sekedar tugas administratif, atau sekedar mendapatkan penilaian baik.

Semua ini tampak mudah dituliskan atau diucapkan, tapi sangat sulit untuk diimplementasikan. Artikel ini semoga bisa menjadi pengingat termasuk kepada diri saya sendiri, untuk selalu bisa berbagi dengan hati…

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *