Memberikan Anak Tangga Menuju Kesuksesan

Tribun Jogja, Senin 31 Agustus 2020

Setiap perguruan tinggi menginginkan mahasiswa dan alumninya menjadi orang-orang yang sukses. Perguruan tinggi akan menuangkan apa yang menjadi cita-cita mereka ke dalam visi, misi, tujuan, sasaran serta dalam deksripsi kurikulum dari masing-masing program studinya. Capaian pembelajaran yang ditetapkan akan diturunkan dalam bentuk capaian matakuliah, yang kemudian itu akan menjadi target kemampuan mahasiswa pada masing-masing matakuliah tersebut.

Dengan capaian pembelajaran matakuliah yang dibebankan pada matakuliahnya, secara otomatis menjadi tugas dosen untuk mengawal agar semua mahasiswa dapat mencapai  target tersebut. Seorang dosen yang bertanggung jawab akan berusaha mendorong dan memfasilitasi mahasiswanya untuk dapat memenuhi capaian pembelajaran dengan berbagai macam cara. Tentu saja perguruan tinggi juga harus memfasilitasinya.

Capaian pembelajaran suatu matakuliah merupakan sebuah standar pencapaian mahasiswa setelah menyelesaikan matakuliah tersebut. Besar kemungkinan standar itu adalah jenjang penguasaan yang lebih tinggi dari apa yang sudah dikuasai mahasiswa pada awal perkuliahan. Saya mengibaratkan, dalam setiap matakuliah sebenarnya kita sedang mengajak mahasiswa untuk naik ke satu tingkat diatasnya. Kalau mereka sedang ada di lantai 1, dosen akan mengajak mahasiswa naik ke lantai 2. Kalau mereka sudah ada di lantai 2, mahasiswa akan diajak ke lantai 3, dan seterusnya.

Untuk membawa mahasiswa naik level, dosen perlu ilmu. Dalam bahasa pendidikan dikenal yang namanya ilmu pedagogi, yaitu seni untuk menjadi seorang guru. Guru dalam makna yang luas yaitu siapa saja yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain, termasuk sebagai dosen.

Salah satu hal yang menurut saya perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menetapkan target capaian dan kemudian memecahnya menjadi sub-sub capaian. Jika capaian itu adalah dari satu lantai ke lantai atasnya, maka sub-sub capaian berupa anak tangga yang dapat mahasiswa gunakan setapak demi setapak sampai akhirnya mereka berada di lantai yang lebih tinggi.

Terkadang sebagai dosen, kita terlupa bahwa memberikan target yang terlalu tinggi dengan tanpa menunjukkan anak tangga kepada anak didik kita, akan menimbulkan keputus-asaan. Mahasiswa akan bingung bagaimana cara mencapainya dan akhirnya mereka sama sekali tidak mau berusaha untuk meraihnya. Tarik ulur antara tantangan dan uluran tangan menjadi suatu seni untuk memberikan kesempatan mahasiswa berusaha namun tetap merasa nyaman dan percaya diri bahwa kita akan membimbingnya, bahwa mereka akan mampu menyelesaikannya. Dengan cara seperti itu akhirnya banyak mahasiswa yang pada akhir semester tanpa disadari mereka sudah mencapai target capaian pembelajaran bahkan telah melampauinya.

Sebagai salah satu wadah untuk penyaluran hasil pembelajaran mahasiswa, perguruan tinggi dapat menyiapkan berbagai ajang publikasi ataupun kompetisi. Seperti juga yang dilakukan di Universitas Amikom Yogyakarta (AMIKOM).

Adalah suatu hal yang sudah menjadi rutinitas, setiap tahun sejak tahun 2008, AMIKOM menyelenggarakan kompetisi bidang ICT untuk memberikan kesempatan mahasiswa berkreasi, dan menunjukkan kemampuan diri. Tahun ini bahkan kompetisi diperluas tidak hanya bidang ICT. Berbagai karya mahasiswa dari proses pembelajaran di kelas, ditarungkan untuk mengapresiasi siapa yang memiliki karya terbaik.

Tahun ini di masa pandemi covid-19, kita semua dibatasi dalam beraktifitas. Social distancing dan physical distancing diterapkan untuk mencegah penyebaran virus yang dapat menyebabkan kematian ini, termasuk di area perguruan tinggi. Ketika sebagian besar orang mengeluhkan situasi ini, AMIKOM mengajak mahasiswa tetap berfikir positif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara online diarahkan untuk menghasilkan karya nyata untuk membantu mencegah, mengatasi ataupun melakukan recovery dari musibah pandemi covid-19.

Tahun ini, disaat sebagian besar orang merasa bingung harus melakukan apa karena dibatasi geraknya. Para mahasiswa berjibaku untuk menghasilkan karya terbaik mereka. Setelah terpilih para nominator, pada Hari Rabu, 26 Agustus 2020, para nominator mempresentasikan produk dan ide mereka dalam proses penjurian AMICTA 2020. Alhasil, pada hari Sabtu, 29 Agustus 2020 malam, secara virtual diselenggarakan acara inagurasi yang tetap megah untuk mengumumkan siapa yang layak disebut juara.

Para mahasiswa tadinya tidak tau dari mana mereka memulai untuk mengikuti kompetisi. Namun langkah demi langkah mereka lalui dalam proses pembelajaran di kelas online, dan akhirnya menhasilkan karya yang luar biasa. Ada rasa takut dan was-was untuk melangkahkan kaki ke ajang kompetisi, namun karena mereka telah memiliki karya dan dorongan motivasi dari pada dosen mereka, akhirnya dikirimkanlah karya itu. Sekarang mereka merasakan indahnya berkompetisi, merasakan nikmatnya sebagai juara. Bahkan yang belum juara, setidaknya mereka merasakan pengalamannya.

Apakah mereka akan berhenti disini? Berdasarkan pengalaman terdahulu, para juara, para nominator dan para peserta akan terus mengembangkan produknya hingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pengalaman mereka pada kompetisi ini akan menuntun mereka mencari kompetisi-kompetisi lain yang lebih tinggi, hingga banyak diantara mereka akan merasakan sebagai juara dunia.

Tidak ada yang lebih membanggakan seorang dosen, selain melihat mahasiswanya berhasil meraih kesuksesan. Bahagia melihat mereka menjadi juara, menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat di luar sana. Terus semangat untuk berkarya, kami percaya kalian bisa….

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *