Menghargai Ketidaksempurnaan

Tribun Jogja, 28 September 2020

Setiap orang tua pasti mengharapkan anak-anaknya mendapatkan kesuksesan di masa depan. Semua guru dan dosen juga berharap hal serupa terhadap semua anak didiknya. Adalah hal yang membahagiakan menyaksikan keberhasilan orang-orang yang kita sayangi. Hal itu membuat kita selalu memberikan semangat kepada mereka untuk terus merangsek maju, berprestasi, berkompetisi untuk menunjukkan jati diri. Harapan-harapan ini menjadi pemacu bagi siapa saja untuk terus bergerak, berkarya memenuhi apa yang diinginkan orang lain terhadap dirinya. Kepercayaan dan harapan seperti sebuah busur yang dapat mendorong anak panah melesat dengan cepat.

Sekolah, perguruan tinggi dan berbagai lembaga baik swasta maupun pemerintah menyelenggarakan berbagai kompetisi yang mewadahi kreatifitas anak-anak kita. Berbagai media juga telah tersedia sehingga dengan mudahnya mereka menceritakan karyanya. Youtube, facebook, instagram, group whatsapp, line, blog dan lain sebagainya dengan mudahnya dijangkau. Publikasi yang ada di berbagai media memfasilitasi link and match antara mereka yang memiliki karya dan mereka yang membutuhkan karya tersebut untuk menyelesaikan permasalahannya. Publikasi yang ada juga ikut mendorong munculnya berbagai ide baru, sehingga akhirnya ada sebuah ekosistem dimana karya-karya anak bangsa tumbuh dengan suburnya.

Namun demikian, mungkin terkadang kita lupa menyampaikan satu hal kepada anak-anak kita. Bahwa perjalanan hidup tidak selalu indah. Tidak semua yang kita harapkan dapat tercapai. Tidak semua orang dapat menerima apa yang kita lakukan. Tidak semua orang menghargai karya kita. Kadang dunia nyata begitu kejam menghempas apa yang kita lakukan, menghujat apa yang sudah kita perjuangkan.

Jika kita tidak menyiapkan mental anak-anak kita, maka mereka akan sangat rentan mengalami kekerasan psikis. Tekanan yang besar dan tidak diperkirakan bisa mencabik-cabik semangat sehingga berubah menjadi keputus-asaan. Terkadang bagi mereka yang hampir selalu mendapatkan kesempatan berprestasi, prestasi seperti sebuah harga mati. Kemenangan dalam kompetisi dan kesempurnaan pandangan orang lain terhadap dirinya adalah sebuah keharusan.

Saya pernah mengalami masa-masa seperti ini, dimana mendapat rangking di kelas adalah sesuatu yang sangat berarti. Saat masih sekolah, saya sering mengalami susah tidur menjelang hari penerimaan raport. Badan terasa demam karena menunggu kabar baik terkait nilai raport yang akan dibagikan.

Apalagi ketika akan pengumuman ujian masuk perguruan tinggi negeri. Tekanan yang luar biasa saya rasakan. Karena keterbatasan ekonomi, saya hanya diijinkan kuliah oleh orang tua saya, kalau saya bisa masuk perguruan tinggi negeri. Malam menjelang pengumuman, mual, sakit perut dan segala macam rasa, saya rasakan. Bahkan saat memegang koran yang berisi pengumuman, badan ini seperti tidak menapak ke bumi. Saya merasa itulah masa depan saya saat itu.

Beruntung saat itu saya diterima di perguruan tinggi yang disayaratkan orang tua saya, sehingga hal buruk lebih lanjut tidak terjadi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saat itu saya tidak diterima. Rasa kecewa mungkin akan berdampak sangat buruk bagi saya, karena saya tidak mempersiapkannya. Seperti juga yang terjadi pada seorang kakak kelas saya, yang akhirnya harus menderita sakit jiwa sampai sekarang, karena gagal masuk sekolah yang diinginkannya.

Banyak berita belakangan ini kita dengar, beberapa artis papan atas yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menghadapi kritikan pedas dari para haters-nya. Berbagai tuntutan terkadang membuat mereka tertekan hingga mencari pelarian, diantaranya dengan mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Untuk mencegah terjadinya hal buruk, selain memberikan dorongan untuk berprestasi, orang tua, guru dan dosen hendaklah juga mempersiapkan para anak-anak mereka untuk bisa menghargai ketidaksempurnaan. Dalam sebuah kompetisi, menang dan kalah adalah hal yang lumrah. Yang terpenting adalah keberanian untuk mengikutinya, juara adalah bonusnya. Ketika kita membuat sesuatu dan mendapat tanggapan tidak seperti yang kita harapkan, tidak perlu kita fokus pada kekurangan karya kita. Ketika usaha kita lakukan sudah maksimal, ada tangan lain yang akan menentukan bagaimana hasilnya. Kita harus bisa ikhlas menerimanya.

Menjadikan kritikan sebagai sebuah umpan balik untuk membuat karya yang lebih baik akan membuat karya kita semakin baik. Terkadang, pandangan orang lain bukanlah hal utama yang harus kita cari, tetapi dampak positif dari apa yang kita buat bagi orang lain akan jauh lebih bermakna.

Ada satu kisah menarik dari satu buku karya Ajahn Brahm yang berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Salah satu ceritanya tentang dua bata jelek. Dikisahkan seorang biksu yang untuk pertama kalinya membangun sebuah tembok dengan punuh kesabaran. Setelah selesai, dia berdiri mengagumi tembok hasil karyanya sampai akhirnya dia menemukan dua bata yang terpasang miring, dan dia merasa itu jelek sekali. Dua bata jelek itu telah merusak pandangannya terhadap keseluruhan tembok tersebut. Kegundahan sang biksu melihat ketidaksempurnaan dari hasil karyanya, sampai dia berencana membongkar kembali tembok tersebut, namun kepala wihara meminta untuk membiarkannya.

Banyak pengunjung datang ke wihara itu, dan sang biksu selalu berusaha menghindarkan mereka dari melihat tembok itu, sampai suatu saat ada seorang pengunjung yang tanpa sengaja melihat bagian tembok itu dan berkata “Itu tembok yang indah”. Sang biksu merasa ada yang aneh dengan pengunjung tersebut, mengira orang tersebut tidak melihat dua bata jelek yang berada di tembok terebut. Namun perkataan pengunjung itu telah mengubah pandangan sang biksu, “Ya, saya melihat dua bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus”. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan sejak terbangunnya tembok itu, sang biksu bisa melihat bata-bata lain yang bagus selain dua bata jelek tersebut. Terkadang kita perlu memberikan pemakluman pada diri kita sendiri, menerima ketidaksempurnaan agar kita bisa melihat sisi positif dari kita dan kembali berkarya memberikan yang terbaik untuk sesama.

Author: Kusrini

I am Kusrini, an associate professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *