Beratnya Melahirkan Anak

Tribun Jogja, 18 Juli 2021

Beberapa malam yang lalu, saya menemani anak saya yang paling kecil. Diusianya yang menjelang 10 tahun, hal yang sangat membahagiakannya adalah ketika menjelang tidur, saya menemani untuk sekedar bercerita tentang apa yang kami alami masing-masing di hari itu, atau cerita mengenai masa lalu. Anak saya sangat menyukai cerita-cerita pengalaman saya ataupun kisah-kisah mengenai orang yang saya kenal atau sekedar kisah dari berita ataupun buku cerita, dan malam itu yang ditanyakan adalah mengenai peran ayah dan ibu dalam kehidupan seorang anak.

Cerita mengalir kemana-mana sampai bagian bagaimana beratnya seorang ibu ketika hamil, melahirkan, menyusui dan juga merawat serta membesarkan anak-anaknya. Dengan seksama anak saya mendengarkan cerita bagaimana ketika saya melahirkan kakaknya yang pertama, penuh perjuangan, bahkan hampir gagal. Ketika saya sudah tidak berdaya, kehabisan tenaga karena menahan sakit selama hampir semalaman ditambah proses melahirkan yang tidak cukup mudah bagi saya yang belum punya pengalaman, terdengar kecemasan bidan yang menolong kelahiran anak saya. Dia berkata kepada suster yang membantunya bahwa anak saya mungkin tidak akan tertolong kalau tidak segera terlahir. Mendengar itu semua, semua sisa tenaga yang saya miliki saya kumpulkan dan akhirnya anak saya terlahir walaupun tidak bisa langsung menangis karena sempat tersumbat lendir dan air ketuban. Karena terlalu besarnya usaha yang saya lakukan saat itu, mengakibatkan banyak pembuluh darah di wajah dan mata saya pecah, sampai semua berwarna merah. Beberapa hari setelah melahirkan keluarga saya menjauhkan cermin dari saya, agar saya tidak terlalu khawatir dengan keadaan itu.

Tidak kalah menegangkan saat adik ipar saya melahirkan di daerah, dimana sumber daya masih sangat terbatas. Saat itu anaknya juga kritis, karena sudah tidak terdapat gerakan dan kemungkinan detak jantung melemah. Dokter berpacu dengan waktu, tindakan operasi terpaksa dilakukan dan pisau operasi itu terpaksa tetap digunakan untuk membedah perut yang masih dalam keadaan belum terbius sempurna. Tidak bisa terbayangkan betapa sakit yang dialami dan harus ditahan seorang Ibu demi melihat anaknya selamat.

Tidak bermaksud menakut-nakuti tapi pengalaman ini hendaklah membuat kita semua bersyukur diberikan kesempatan hadir di dunia setelah perjuangan luar biasa dari Ibu kita yang tentu saja didukung oleh ayah kita. Kita tidak boleh menyia-nyiakan hidup kita dengan melakukan hal yang tidak bermanfaat. Setelah segala perjuangan untuk menghadirkan kita, tidak sepantasnya seorang anak tidak berusaha membahagiakan orang tua dengan segala keberhasilannya.

Proses melahirkan tidak semuanya sesulit itu. Di kelahiran anak saya yang kedua dan ketiga Allah memudahkannya. Hanya perlu waktu sekitar 30 menit berada di rumah sakit hingga anak saya terlahir. Karena begitu cepat prosesnya dokter yang seharusnya menolong persalinan pun belum siap.

Memikirkan semua itu, sama dengan perjuangan seorang pengelola program studi dan para dosen pembimbing untuk melahirkan para sarjana, pada master dan juga doktor. Beragam level perjuangan untuk membuat mereka lulus.

Seperti di Magister Teknik Informatika Universitas AMIKOM Yogyakarta (MTI), ada mahasiswa yang dengan arahan sedikit saja sudah bisa meluncur dengan begitu cepat. Bisa menyelesaikan studi dengan gemilang. Ketika mereka bergabung dengan MTI, di hari pertama mereka diberikan pembekalan dengan menghadirkan penjelasan berbagai strategi mengoptimalkan kemampuan untuk mendapatkan prestasi dan selesai studi tepat waktu. Tidak hanya teori, para mahasiswa yang telah berhasil di angkatan sebelumnya dihadirkan dan menceritakan kisah-kisah nyata mereka. Hal ini mampu mengobarkan api semangat mereka sehingga mereka membulatkan tekad untuk memanfaatan waktu 3 semester di MTI dengan mengumpulkan pundi-pundi prestasi. Disaat mereka diberi kesempatan pembelajaran termasuk tesis selama 4 semester, mereka telah ujian tesis di awal semester 3 sehingga bisa yudisium setelah semua nilai matakuliah di semester 3 keluar.

Tentu saja tidak semua mahasiswa seperti itu. Ada dari mereka mengalami kendala entah itu pekerjaan, keluarga, kesehatan, dll. Sebagai orang tua di perguruan tinggi, dosen pembimbing dan pengelola program studi tidak akan membiarkan anak-anaknya gagal terlahir. Dosen dan pengelola tidak akan rela mereka keluar dari perguruan tinggi dengan status drop out. Oleh karenanya setiap dosen pembimbing akan berjuang dengan cara mereka, untuk mengajak mahasiswanya agar bisa lulus tepat waktu.

Saat ini masuk periode Semester Genap 2020/2021. Semester ini akan berakhir di Bulan Agustus. Sudah menjadi ritual bagi para dosen pembimbing, di masa kritis ini untuk memberikan suntikan motivasi dan dukungan kepada para mahasiswa yang berpotensi gagal di semester ini agar mereka terus berjuang. Tidak menunggu mahasiswa yang datang untuk konsultasi, kami para dosen menjemput bola, menyapa mereka, menanyakan apa kesulitannya, memberikan dukungan sesuai kebutuhan mereka masing-masing.

Segala perjuangan ini tak lain adalah ingin melihat anak-anak kami, para mahasiswa kami menjadi orang yang berhasil. Orang yang mau mensyukuri setiap kesempatan yang mereka dapatkan dan tidak mudah menyerah dengan berbagai rintangan yang ada. Bangsa ini menunggu karya nyata mereka.

Author: Kusrini

I am Kusrini, a professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta