Harus banget kuliah di PTN?

Tribun Jogja, 21 Juni 2021

Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 telah diumumkan seminggu yang lalu, yaitu pada tanggal 14 Juni 2021 Jam 15.00 WIB. Pengumuman disampaikan secara online melalui web LTMPT dan beberapa situs lain. SBMPTN tahun ini diikuti oleh 777.858 peserta dan yang berhasil diterima sebanyak 184.942. Hanya 23,8% dari pendaftar yang dapat terakomodir di perguruan tinggi negeri.

Beberapa teman yang anaknya berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menghubungi saya, untuk meluapkan kegembiraannya. Selamat kepada semua peserta SBMPTN yang dinyatakan lulus dan diterima di PTN. Manfaatkan kesempatan ini dengan baik, belajar dengan tekun agar ketika lulus bisa menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mendengar cerita bahagia dari mereka yang berhasil diterima di PTN yang mereka impikan, membawa saya bernostalgia di masa 24 tahun lalu. Saat itu pengumuman Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) disampaikan secara fisik melalui koran. Masih terasa, bagaimana semalaman saya tidak bisa tidur menunggu pagi tiba. Badan terasa panas dingin, perut seolah tidak mau kompromi, jantung berdegup lebih kencang, harap-harap cemas apakah ada nomor pendaftaran saya dalam daftar calon mahasiswa diterima. Dengan diantar Bapak saya, di pagi buta kami berangkat ke kota untuk membeli koran. Tidak sabar sampai rumah, diatas boncengan motor itu, mata saya menelusuri deratan angka yang ada disana. Lega… saat melihat ada nomor saya disana. Aku lulus, aku diterima… teriak saya saat itu. Bahagia tidak terkira, nama saya terselip diantara sekitar 67 peserta yang diterima di program studi pilihan saya dari lebih 2.500 pendaftar saat itu.

Saat itu keberhasilan saya diterima di PTN adalah sebuah harga mati jika saya ingin lanjut kuliah. Disaat yang lain sudah diterima di perguruan tinggi swasta, saya hanya bisa berharap nomor saya ada di lembar pengumuman UMPTN karena saya tidak mendapat ijin untuk mendaftar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Ada 2 alasan mendasar mengapa orang tua saya hanya memberikan saya kesempatan kuliah di PTN. Pertama adalah karena pandangan orang tua saya saat itu, hanya PTN yang bagus. Hanya PTN yang bisa mengantar saya untuk menjadi orang yang sukses. Karena memang sempitnya pengetahuan kami saat itu tentang PTS. Tentu saat ini hal tersebut tidak berlaku lagi. Alasan yang lebih penting adalah biaya. Kami tidak tau bagaimana caranya bisa membayar biaya pendidikan di PTS yang notabene jauh lebih besar. Saat itu di program studi saya, biaya SPP yang harus dibayarkan adalah Rp. 250.000,- per semester.

Bagaimana dengan sekarang? Apakah memang biaya pendidikan di PTS jauh lebih mahal dari PTS? Bisa iya, bisa tidak. PTN menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) dengan besaran disesuaikan kelas penghasilan orang tua. Besaran biaya kuliah di PTN dapat dilihat di masing-masing website perguruan tingginya.

Dilansir dari web https://um.ugm.ac.id/uang-kuliah-tunggal-ukt-sarjana-terapan-dan-sarjana/, di Universitas Gadjah Mada (UGM) ada 9 kelompok UKT, mulai dari UKT0 untuk peserta bidikmisi, UKT1 untuk peserta dengan penghasilan orang tua <= 500.000 s.d UKT8 dengan penghasilan orang tua > 30.000.000. Untuk peserta bidikmisi bebas biaya UKT alias Rp. 0,-, untuk kelompok UKT1 besaran biaya yang dibayarkan adalah Rp. 500.000,- sedangkan untuk kelompok UKT berikutnya besarannya beragam tergantung dari program studinya. Untuk biaya UKT terbesar adalah Rp. 26.000.000,- per semester untuk program studi Sarjana Pendidikan Dokter dan Sarjana Kedokteran Gigi.

Di Institut Teknologi Bandung (ITB) informasi biaya kuliah dapat dilihat di https://admission.itb.ac.id/home/hasil-seleksi/info-maba2021. ITB menerapkan 2 besaran biaya UKT yaitu Rp. 12.500.000,- per semester dan Rp. 20.000.000,- per semester tergantung program studi yang diambil. Ada tambahan iuran pengembangan institusi yang sifatnya sukarela. Bagi calon mahasiswa yang diterima dari jalur SBMPTN diberikan kesempatan pembebasan biaya bagi pemegang kartu KIP, dan beasiswa serta cicilan bagi mereka yang kurang mampu. Sementara itu untuk jalur mandiri, UKT dibayarkan penuh.

Sementara itu di Universitas Indonesia (UI) besaran biaya dapat dilihat di https://www.ui.ac.id/pengantar-pendaftaran/biaya-pendidikan.html. Biaya UKT di UI terdiri dari BOP-Berkeadilan (BOP-B) dan BOP-Pilihan(BOP-P). Kelas UKT dibagi menjadi 6 dengan besaran BOP-B antara Rp. 0,- s.d Rp. 7.500.000 dan BOP-P antara Rp. 7.500.000,- s.d Rp. 20.000.000,-

Bagaimana dengan perguruan tinggi swasta? Besaran biaya di perguruan tinggi swasta tentu juga beragam.

Di Universitas Bina Nusantara (Binus), informasi biaya dapat diakses di https://binus.ac.id/tuition-fee-undergraduate-programs/. Untuk program studi Computer Engineering di Binus Greater Jakarta biaya yang harus dibayarkan adalah biaya sumbangan sebesar Rp. 35.000.000,- dan biaya kuliah per semester dimana biaya kuliah di semester 1 sebesar Rp. 41.400.000,-.

Di Universitas Islam Indonesia (UII), informasi biaya dapat dilihat di https://pmb.uii.ac.id/biaya-studi/. Biaya yang harus dibayarkan oleh mahasiswa UII adalah biaya Catur Darma (hanya pada tahun 1) dan uang kuliah tahunan. Besaran biaya Catur Darma tergantung dari kelompok peringkat dan program studi dengan besaran 0 s.d Rp. 40.000.000,- Besaran uang kuliah per tahun beragam tergantung program studi dan tahun kuliah. Untuk tahun pertama program studi S1 Teknik Informatika uang kuliah sebesar Rp. 37.200.000,-

Di Universitas AMIKOM Yogyakarta (AMIKOM), biaya studi dapat dilihat di https://pmb.amikom.ac.id/info. AMIKOM menerapkan biaya sarana, biaya pendukung dan SPP dengan besaran beragam tergantung dari program studi dan gelombang pendaftaran. Potongan biaya sarana diberikan kepada mahasiswa yang mendapatkan nilai NEM/UN >= 7.5. Keseluruhan biaya yang harus dibayarkan oleh calon mahasiswa yang mendaftar pada Gelombang II di semester 1 (tanpa potongan biaya sarana) antara Rp. 7.170.000 s.d Rp. 11.615.000,-. Besaran biaya kuliah pada semester berikutnya akan menurun karena dikurangi biaya pendukung yang berkisar antara Rp. 1.285.000,- s,d Rp. 1.350.000,-. Tahun ini Universitas AMIKOM Yogyakarta juga menerima mahasiswa bidikmisi dengan biaya Rp.0,-. Selain itu beasiswa-besasiswa lain juga disiapkan. Anggaran beasiswa di AMIKOM tahun ini sebesar s.d 4.5 Miliar.

Bagi yang belum berkesempatan diterima di PTN jangan berkecil hati, karena masih ada kesempatan belajar di PTS. Beberapa PTS menerapkan biaya yang bersaing dengan PTN. Jika tetap menginginkan belajar di PTN walaupun kuliah di PTS juga sangat bisa. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Kampus Merdeka – Merdeka Belajar, diantaranya mahasiswa dapat belajar di luar kampus termasuk di perguruan tinggi lain, termasuk di PTN. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kemampuan perguruan tinggi menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi lain dan juga dengan industri.

Tetap semangat… kejar mimpimu.

Author: Kusrini

I am Kusrini, a professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta