Literasi Digital untuk Koperasi


Tribun Jogja, 5 Juli 2021

Indonesia menganut sistem ekonomi kerakyatan. Konsep ekonomi kerakyatan adalah sebuah konsep politik-perekonomian yang memusatkan pelaksanaan kegiatan ekonomi pada rakyat berdasarkan pada kepentingan serta kemakmuran rakyat. Salah satu perwujudan dari konsep ini adalah pengembangan koperasi.

Koperasi adalah sebuah organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan oleh sekelompok orang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Tujuan utama organisasi ini adalah kesejahteraan anggotanya. Di Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) per tanggal 31 Desember 2020 tercatat 127.124 koperasi yang aktif dengan 25.098.807 anggota. Kegiatan koperasi ini digadang-gadang sebagai salah satu usaha untuk menjamin kemakmuran masyarakat.

Sayangnya, sudah lebih dari satu tahun pandemi COVID-19 melanda Ibu pertiwi. Virus corona sangat mudah menular dan memberikan dampak yang tidak ringan kepada siapa yang dihampirinya bahkan kematian menjadi sebuah ancaman. Keadaan tersebut memaksa masyarakat untuk mengubah cara  dalam menjalankan kehidupannya, sehingga mau tidak mau juga berdampak pada berbagai kegiatan usaha termasuk yang dikelola oleh koperasi.

Menurut hasil survei KemenKopUKM pada Bulan Juli 2020 terdapat tiga kelompok usaha koperasi paling terdampak pandemi masing yaitu Koperasi Simpan Pinjam (41%), Koperasi Konsumen (40%), dan Koperasi Produsen (10%).  Permasalahan utama yang mereka hadapi di masa pandemi Covid-19 adalah permodalan (47%), penjualan menurun (35%), dan produksi terhambat (8%).

Tentu saja hal ini karena juga kondisi masyarakat yang berubah. Pembatasan-pembatasan yang dilakukan baik yang terorganisir melalui program pemerintah ataupun dilakukan secara mandiri oleh masyarakat untuk mencegah penularan Covid, membuat perubahan prioritas belanja dan cara melakukan belanja. Sebagai pelaku usaha, koperasi harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Jika dulu orang senang belanja dengan datang ke tempat penjualan supaya dapat memilih langsung barang yang diinginkan atau mendapat penjelasan langsung terkait jasa yang akan didapatkan, saat ini sebagian besar masyarakat memilih belanja secara online. Oleh karena itu pelaku usaha termasuk koperasi tidak punya cara lain untuk bertahan selain ikut terjun dalam dunia digital.

Pemahaman tentang bagaimana memanfaatkan teknologi dalam mendukung usaha dari koperasi sangat dibutuhkan saat ini. Ini menjadi perkerjaan rumah bersama. Bagaimana mereka yang telah memiliki pengetahuan terkait dapat berbagi dan dapat mendampingi para pelaku usaha ini.

Pemerintah sangat mendukung usaha peningkatan literasi digital bagi pengurus koperasi. Seperti beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 8 – 11 Juni 2021, Dinas Koperasi dan UKM DIY menggandeng Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk mengadakan pelatihan digital marketing bagi 25 pengurus koperasi di DIY. Pada kegiatan ini para peserta ditunjukkan berbagai macam teknologi yang memungkinkan diterapkan dalam koperasi. Tidak hanya melihat, mereka juga diajak mempraktekan penggunaan teknologi tersebut. Mereka diajak mencoba memasukkan produk-produk mereka ke media sosial, e-commerce sampai dengan memanfaatkan financial technology. Mereka juga diajarkan bagaimana mengambil gambar produk mereka dan mengeditnya sehingga dapat menarik minat calon pembeli. Selain itu mereka juga ditunjukkan berbagai macam peluang usaha digital yang dapat mereka jalani pada masa ini.

Program ini bukanlah program pertama yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UKM DIY dan Universitas AMIKOM Yogyakarta. Secara periodic, beberapa bulan sekali kegiatan serupa dilakukan untuk kelompok pengurus koperasi yang berbeda.

Dukungan dari pemerintah pusat juga sangat besar, bahkan tidak hanya untuk koperasi tetapi juga untuk pelaku usaha lain dan juga masyarakat. Pada tanggal 20 Mei 2021, bersamaan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Presiden RI, Joko Widodo, meluncurkan Program Literasi Digital Nasional “Indonesia Makin Cakap Digital”.

Dalam implementasinya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), menggandeng beberapa perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan juga asosiasi perguruan tinggi untuk membantu menyelenggarakan kelas-kelas literasi digital. Koordinasi telah dilakukan secara daring pada Tanggal 25 Juni 2021, dimana APTIKOM menjadi salah satu asosiasi dari dua asosiasi yang digandeng oleh Kemenkominfo.

Organisasi lain pun tak tinggal diam. Bidang Pendidikan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, membentuk beberapa komite tetap untuk membantu meningkatkan literasi digital bagi masyarakat khususnya koperasi dan UMKM. Salah satu komite yang dibentuk yaitu Komite Tetap Pelatihan dan Konten. Komite ini nantinya diharapkan menjadi salah satu wadah bagi proses edukasi yang dapat membantu meningkatkan pemahaman dan kerampilan digital masyarakat. Jika semua bergandengan tangan bersama, semoga program Literasi Digital Nasional yang telah dicanangkan dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, membantu memulihkan bahkan meningkatkan keadaan ekonomi masyarakat selama dan setelah pandemi.

Author: Kusrini

I am Kusrini, a professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta