Horee… bisa kuliah tatap muka

Tribun Jogja, 27 September 2021

Masyarakat Indonesia berjibaku dengan pandemi COVID 19 sejak Maret 2020. Menurut JHU CSSE COVID-19 Data, puncak kasus terdapat pada tanggal 15 Juli 2021, dimana ditemukan sebanyak 56.757 kasus baru dalam 1 hari. Saat ini 18 bulan sejak pandemi melanda negeri kita, 2 bulan lebih dari puncak kasus, perlahan jumlah kasus terus menurun. Data per tanggal 24 September 2021 mununjukkan kasus baru hanya 2.557 dengan rata-rata seminggu terakhir sebanyak 2.710. Semua tentu berharap kasus ini akan terus menurun, bahkan akan menghilang.
 
Betapa tidak, selama pandemi semua orang seolah terbelenggu. Tuntutan untuk meminimalisir kontak langsung dengan orang lain telah membuat berbagai kegiatan kita sehari-hari berubah. Termasuk dalam melaksanakan pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan, dari TK, SD, sampai dengan pendidikan tinggi.
 
Covid-19 telah memaksa guru dan dosen untuk berfikir kreatif, melaksanakan pembelajaran dengan segala keterbatasan. Akhirnya teknologi menjadi andalan. Para pengajar berjibaku untuk bisa membuat materi yang mudah dipahami secara mandiri oleh para peserta didiknya. Mereka belajar membuat rekaman materi agar bisa dilihat para siswanya sebagai ganti mereka menjelaskan di depan kelas. Mereka harus membuat asesmen untuk memastikan para peserta didiknya benar-benar membaca materi atau melihat video dan memahaminya. Mereka menyelenggarakan tatap muka online demi bisa menyapa para peserta didiknya, untuk menjaga motivasi dan memastikan kesehatan mental para mereka. Sungguh luar biasa. Hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya, membayangkan pun terlalu rumit, tiba-tiba harus di hadapi dan tetap harus bisa demi menjaga agar tidak ada putusnya keilmuan dari generasi yang saat ini terdampak pandemi Covid-19.
 
Walaupun segala upaya telah dilakukan untuk bisa melaksanakan pembelajaran full online, tentu masih banyak tantangan yang dihadapi. Interaksi sosial antar siswa menjadi salah satu hal penting untuk menjaga kesehatan mental mereka. Bagi pembelajar dewasa, mungkin mudah mereka berinteraksi walaupun dengan tatap maya, tapi bagaimana dengan anak-anak yang secara naturalnya masih ingin bermain.
 
Seiring dengan menurunnya jumlah kasus yang terjadi, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), mulai mengijinkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas. Hal ini tentu disambut baik oleh penyelenggara pembelajaran, orang tua dan para siswa/mahasiswa. Rasa rindu untuk bisa bertemu langsung dan bersosialiasi dengan guru, dosen dan teman-temannya segera dapat terobati.
 
Banyak sekolah saat ini sudah mulai melakukan uji coba tatap muka terbatas. Tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun demikian, tidak serta merta semua berjalan aman. Berdasarkan data hasil penelitian internal Kemendikbudristek s.d tanggal 22 September 2021 Jam 23.59, terdapat kasus 1.303 sekolah menjadi kluster Covid-19. Namun demikian ini tidak menyurutkan semangat dari Kemendikbudristek untuk tetap meminta sekolah melaksanakan PTM Terbatas.
 
Jumlah ini mungkin akan semakin besar apabila tidak ditangani dengan baik. Apalagi Kemendikbudristek juga telah mengeluarkan surat edaran No 4 tahun 2021 tentang PTM Terbatas Tahun Akademik 2021/2022. Dalam surat edaran tersebut Kemendikbudristek menyampaikan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi mulai semester gasal tahun akademik 2021/2022 diselenggarakan dengan PTM Terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, dan/atau pembelajaran daring.
 
Dalam melaksanakan PTM Terbatas ditekankan untuk menegakkan protokol kesehatan dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi termasuk sarana prasarana untuk mencegah penularan Covid-19 seperti penyediaan desinfektan, tempat cuci tangan/hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh,  instruksi penggunaan masker, penerapan jaga jarak  1,5 m, pembatasan jumlah orang dalam satu ruangan, penggunaan ruangan yang terbuka, dll. Vaksinasi dan ijin dari orang tua juga menjadi salah satu syarat utama bagi mahasiswa untuk bisa mengikuti kegiatan tatap muka. Karena tidak semua peserta didik memiliki kesiapan terhadap persyaratan yang ada, maka perguruan tinggi masih diminta untuk juga tetap menyiapkan pembelajaran online. Peralihan ke PTM Terbatas tidak boleh dilakukan secara gegabah, semua petunjuk teknis sesuai ketentuan dari pemerintah harus dipenuhi demi keselamatan bersama.
 
Semua upaya pencegahan terhadap penularan Covid-19 ini dalam pelaksanaannya diperlukan kesadaran yang sangat tinggi dari seluruh pihak yang terlibat. Namun kita menyadari tidak semua oang memiliki tingkat kepatuhan yang sama. Padahal kecerobohan sebagian orang dapat berakibat fatal bagi orang lain. Untuk itu perlu suatu perangkat untuk memastikan semua pihak patuh terhadap ketentuan yang ada.
 
Upaya penegakan kepatuhan ini dapat dilakukan secara manual dengan menyiapkan banyak staf pengawas di lokasi-lokasi yang strategis. Tetapi ini akan menjadi beban finansial yang tinggi bagi perguruan tinggi. Untuk itu teknologi mungkin dapat menjadi salah satu solusi.
 
Saat ini salah satu tim peneliti Universitas AMIKOM Yogyakarta yang diketuai oleh Bp. Arief Setyanto, S.Si, M.T. Ph.d, sedang mengerjakan penelitian untuk menyediakan teknologi dengan memanfaatkan CCTV dan low cost computer untuk melakukan deteksi pelanggaran protokol kesehatan di tempat publik seperti orang yang tidak menggunakan masker, menggunakan masker tetapi tidak sesuai atau tidak menjaga jarak. Penelitian ini mendapatkan pendanaan dari Hibah Kemendikbudristek selama 3 tahun. Saat ini sebagian prototipe sudah jadi dan akan segera diujicobakan. Semoga ini menjadi salah satu sumbangsih untuk mencegah timbulnya gelombang Covid-19 karena ketidak patuhan masyarakat terutama dilingkungan sekolah dan perguruan tinggi terhadap protokol kesehatan.
 
Yuk patuhi protokol kesehatan, dan kita bersama-sama bahagia menjalankan aktifitas kita dengan tetap sehat dan aman…

Author: Kusrini

I am Kusrini, a professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta