Perjalanan menuju Profesor

Tribun Jogja, 11 Oktober 2021

Hari ini, 11 Oktober 2021 adalah hari yang membahagiakan bagi saya. Di hari istimewa ini, hari ulang tahun AMIKOM yang ke 27, sekaligus akan dilakukan pengukuhan jabatan akademik Guru Besar saya. Setelah perjuangan sekian lama, akhirnya saya bisa meraih gelar Profesor, gelar yang menjadi cita-cita semua dosen sebagai salah satu bentuk pengakuan akan prestasi akademiknya.

Apakah memang profesor sudah menjadi cita-cita saya sejak kecil? Sebagian orang bertanya seperti itu. Sejujurnya, jangankan bercita-cita menjadi profesor, menjadi dosen pun tidak pernah terbayangkan.

Saya terlahir dari sebuah desa kecil di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. Sekolah di SD Negeri Pulongrambe 1, sebagai murid yang biasa-biasa saja. Saya hampir tidak pernah mendapat rangking yang berarti di sekolah saya. Prestasi pertama saya, yang membuat saya sangat bangga adalah ketika suatu hari dalam kegiatan lari di sekolah, untuk pertama kalinya saya berhasil mendapat urutan nomer 2 dari belakang, karena 1 orang teman saya terjatuh.

Rasa percaya diri mulai muncul ketika saya pindah sekolah pada waktu saya kelas 5 SD. Sebagai murid baru, saya diperkenalkan oleh kepala sekolah di depan semua guru dan murid pada saat upacara bendera. Saat itu terpikirkan oleh saya, bahwa mereka semua tidak ada yang tau latar belakang saya. Dalam hati saya berjanji akan menjadi murid yang jauh lebih baik dari saat saya besekolah di sekolah yang lama.

Pada saat itu saya ditawari sebagai sekretaris kelas. Saya terima tugas itu, dan karenanya saya sering mendapat kesempatan meminjam buku ke guru, sebagai upah saya membantu mencatat di papan tulis. Mendapat pinjaman buku paket adalah hal yang sangat saya tunggu. Maklum, saya tidak punya buku paket di rumah, saat itu belum ada akses internet, di sekolah juga tidak ada perpustakaan.

Kesempatan membawa buku paket adalah kesempatan saya untuk menyalin isi penting dari buku itu. Akibatnya saya sudah tau beberapa hal lebih dulu dari teman saya, sehingga akhirnya saya berhasil mendapatkan rangking dari semester pertama saya sekolah di sekolah baru saya.

Kepercayaan dari teman dan guru adalah hal yang sangat penting dalam perjalanan hidup saya. Banyak rintangan berikutnya dapat dilalui karena bantuan dari mereka. Suatu ketika, saya diharuskan berhenti sekolah, tidak diijinkan melanjutkan ke SMP karena sebuah perjodohan. Saat itu guru-guru saya hadir mendukung saya, memperjuangkan saya sehingga akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah, tidak hanya sampai SMP bahkan sampai dengan merasakan indahnya belajar di perguruan tinggi.

Pengalaman belajar di luar kampus selama di kuliah S1 dari Program Studi Ilmu Komputer UGM, membuat saya ingin mencoba menjadi seorang pengusaha. Saya membuat perusahaan software bersama teman-teman kuliah di UGM. Banyak aplikasi yang sudah kami bangun dan terapkan di berbagai instansi. Pada tahun 2003, saya berfikir bahwa memberikan manfaat bagi orang lain bukan hanya dengan membuat aplikasi yang dapat digunakan masyarakat secara langsung, tetapi juga dengan membagikan pengalaman di lapangan kepada orang lain sehingga akan lebih banyak orang yang bisa memberikan manfaat bagi sesama. Saat itu saya berkesempatan bergabung dengan STMIK AMIKOM Yogyakarta sebagai dosen.

Memilih profesi dosen dengan harapan bisa terus belajar, baik dengan pendidikan formal di S2 dan S3 maupun belajar bersama rekan dosen dan mahasiswa memecahkan berbagai permasalahan aktual di setiap proses pembelajaran. Saya berfikir bahwa dosen adalah profesi yang sangat membebaskan diri untuk berkreasi melalui sebuah kerangka kegiatan tridharma perguruan tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Setelah menjadi dosen saya mencoba mempelajari hal apa yang diperlukan untuk menjadi dosen yang baik. Dosen yang memberikan kebermanfaatan bagi perguruan tinggi dan seluruh sivitas akademika di dalamnya. Dosen yang memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat di sekitarnya.

Menilik dari instrumen penilaian akreditasi program studi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), ada 2 syarat perlu yang terkait langsung dengan dosen agar bisa mendapatkan akreditasi Baik, Baik Sekali atau Unggul. Kedua kriteria tersebut adalah jenjang pendidikan dan jabatan akademik. Untuk akreditasi Baik sekali pada program S1, minimal 25% bergelar doktor dengan bidang ilmu relevan dan 35% berjabatan akademik lektor, lektor Kepala dan guru besar. Untuk jenjang S2 dan S3 semua dosen harus doktor dan untuk mendapat nilai akreditasi baik sekali jumlah lektor kepala dan guru besar minimal 35%. Sementara itu, untuk membuka program studi baru S3, salah satu syaratnya adalah memiliki dosen bergelar doktor 5 orang, minimal 2 dosen guru besar dan 3 dosen minimal memiliki jabatan akademik Lektor Kepala.

Karena adanya kebutuhan inilah yang mendorong saya untuk menyelesaikan studi S3 dan segera mengurus jabatan akademik guru besar. Saya ingin menjadi pembilang, bukan penyebut dalam proses pemenuhan syarat dalam pembukaan program studi ataupun dalam akreditasi.

Apakah mudah untuk mencapai itu? Tentu jawabannya tidak. Saya mendapatkan jabatan akademik pertama pada 1 Agustus 2005, mendapatkan jabatan akademik lektor pada 1 Februari 2008, jabatan kademik lektor kepala 1 Maret 2013 dan baru mendapatkan SK Guru besar pada tanggal 1 Juli 2021.

Dari semua pengurusan jabatan akademik yang saya lalui, saya merasa pengusulan jabatan akademik guru besar memang yang paling sulit. Mengingat untuk jabatan ini ada syarat khusus yang cukup berat. Pada saat proses pengajuan jabatan fungsional saya, selain memenuhi total point tridharma perguruan tinggi minimal 850 point, pengusul harus memiliki publikasi di jurnal internasional bereputasi. Saat ini bahkan syarat ini masih ditambah lagi, dimana pengusul juga harus memiliki salah satu dari 4 yaitu pernah mendapatkan hibah penelitian kompetitif sebagai ketua, penah membimbing/atau membantu membimbing mahasiswa S3, menguji minimal 3 mahasiswa S3 atau menjadi reviewer jurnal minimal di 2 jurnal internasional bereputasi yang berbeda. Belum lagi syarat tambahan lainnya ketika masa ijazah S3 kurang dari 3 tahun atau masa kerja kurang dari 20 tahun.

Untuk memenuhi persyaratan tersebut jika dilakukan sendiri tentu tidak mudah. Saya harus beberapa kali melakukan revisi pengusulan saya karena beberapa paper syarat khusus yang saat itu saya ajukan masih belum dianggap memadai. Saat itu paper-paper saya terpublikasi di Jurnal terindeks scopus Q2 dan Q3.

Penolakan itu memaksa saya untuk belajar lebih banyak. Saya menyadari banyak kekurangan pada diri saya, banyak hal yang tidak bisa saya lakukan sendiri. Atas arahan Prof. Dr. M. Suyanto, M.M, rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta dan dukungan dari Wakil Rektor IV, Bp. Arief Setyanto, M.Sc, Ph.D saya mengikuti program World Class Professor. Program ini adalah program kolaborasi publikasi ilmiah bersama dengan profesor kelas dunia dengan H-Index Scopus minimal 10 dengan pendanaan dari Kemenristekdikti. Saya berkolaborasi dengan Prof. Ebroul Izquierdo, PhD, MSc, CEng, FIET, SMIEEE, MBMVA dari Queen Mary University of London, UK yang memiliki H-Index Scopus 23. Beliau berkenan hadir ke AMIKOM membimbing saya dan berkenan menerima kunjungan saya ke UK untuk belajar bersama dengan teman-teman mahasiswa S3 dan Postdoc disana.

Hasil penelitian saya bersama dengan teman-teman peneliti di Indonesia saya bawa ke UK dan kami olah bersama untuk menjadi publikasi yang baik. Alhasil, paper kami diterima di jurnal terindeks scopus Q1 dan memenuhi persyaratan khusus pengusulan guru besar saya. Selain paper tersebut, ada beberapa paper lain yang terpublikasi. Kami juga melanjutkan kolaborasi penelitian dengan pendanaan dari Europian Commision bersama 49 institusi besar dari Eropa, Brasil dan Australia untuk mengimplementasikan berbagai teknologi untuk pencegahan dan penanganan kebakaran hutan di beberapa negara termasuk Indonesia. Saya menyadari, jalan berliku menuju profesor ini hanyalah cara Allah untuk membuat saya belajar lebih, memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih agar pada akhirnya saya bisa memberikan kontribusi lebih bagi institusi saya, bagi negeri saya dan bagi seluruh umat manusia di dunia.

Author: Kusrini

I am Kusrini, a professor from Universitas AMIKOM Yogyakarta Indonesia. I finished my doctoral program from Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Indonesia in 2010. I am interested in exploring many things about machine learning and another artificial intelligence field. I also love doing research on decision support systems and databases. I am a member of the IEEE and IEEE Systems, Man, and Cybernetics Society. This moment I also as Director of The Graduate Program in Universitas AMIKOM Yogyakarta