BELAJAR MENJADI PEMIMPIN DARI SEORANG DIRIJEN

Dua hari lalu saya menghadiri wisuda di perguruan tinggi saya. Salah satu suguhan yang ditunggu saat wisuda adalah pertunjukan yang dilakukan oleh paduan suara. Sejak pandemi Covid 19, wisuda dilakukan secara online sehinga tontonan apik ini juga tidak dapat kami nikmati. Tapi pada wisuda kali ini sudah dilakukan secara tatap muka lengkap dengan penampilan paduan suaranya.

Di acara wisuda yang ke 85 ini, posisi saya ada di atas panggung karena saya bertugas sebagai senat yang ikut dalam prosesi wisuda. Dari tempat duduk saya, saya dapat melihat dengan jelas ekspresi dari teman-teman paduan suara, terutama dirijennya.

Sebelum acara wisuda kemaren, saya kurang memperhatikan bagaimana peran seorang dirijen. Bagi saya dirijen hanyalah seseorang yang bertugas memberikan aba-aba dengan gerakan tangannya, agar tim paduan suara tau kapan dapat mulai menyanyi bersama-sama sesuai dengan ingatan mereka tentang lirik dan juga nadanya, dan kapan mereka harus berhenti menyanyi.

Tidak seperti biasanya, saya memperhatikan bagaimana caranya dirijen tersebut memandu teman-temannya untuk bisa menyajikan yang terbaik dalam pertunjukan yang dihadiri oleh hampir 1500 orang tersebut. Dari mulai mereka masuk ke panggung, menunggu waktu untuk menunjukkan kepiawaiannya, pertunjukan itu sendiri hingga akhirnya mereka harus meninggalkan panggung.

Setelah berada di panggung, dengan seksama dirijen memperhatikan semua anggota paduan suara, termasuk ketepatan posisi, postur ataupun mimik wajah. Dengan penampilan yang tetap elegan, dia meminta temannya menggeser posisinya, ada yang diminta menegakkan badan, sampai juga diajak untuk tersenyum. 
Ketika mereka sedang dalam pertunjukan, dengan sepenuh hati dirijen mengomando semua anggota paduan suara. Dengan gerakan indahnya yang penuh makna, dia tidak hanya mengatur kapan harus mulai menyanyi, dia juga mengatur anggota mana saja yang harus mengeraskan suara, mana yang harus pelan dan mana yang harus diam. 
Dengan sandi yang tetap terlihat cantik, dia beberapa kali mengingatkan anggotanya untuk tetap tersenyum, untuk lebih semangat dalam membawakan lagu. Dia juga mengatur gerakan yang harus dilakukan oleh anggotanya sehingga menyempurnakan penampilan mereka.

Terlihat rasa percaya diri yang sangat tinggi dalam diri dirijen tersebut. Senyum hangat yang selalu ditunjukkan dihadapan anggotanya memberikan kedamaian dan kenyamanan bagi anggota untuk mengikuti arahannya. Alhasil sajian apik dapat disuguhkan oleh tim paduan suara ini.
Kekompakan dari tim paduan suara, menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Dapat dibayangkan jika para anggotanya tidak dengan ikhlas mengikuti arahan dari dirijen ini, pastilah lagu-lagu yang disajikan tidak akan dapat dinikmati. 

Untuk dapat menjadi seorang dirijen tentu diperlukan kemampuan khusus diantaranya adalah penguasaan terhadap musik yang baik. Memahami dengan baik lagu yang akan disajikan, memahami dengan baik karakteristik anggota paduan suara termasuk tim pengiringnya. Dia harus mengetahui keunggulan dan kelemahan dari masing-masing anggota tim sehingga dapat mengatur siapa yang harus berperan pada bagian yang mana. Kemampuan komunikasi juga sangat diperlukan untuk menyampaikan dengan baik apa yang dipikirkan kepada anggota timnya dan membuat mereka mempercayainya. 

Selama melihat pertunjukan ini, saya memikirkan betapa indahnya suatu institusi atau organisasi jika memiliki pemimpin seperti seorang dirijen dalam paduan suara ini. Pemimpin yang memahami proses bisnis dalam institusi atau organisasinya, mengetahui keunggulan dan kelemahan dari anggota timnya sehingga bisa menempatkan mereka pada posisi yang dapat mengoptimalkan potensi mereka. Pemimpin yang dengan sepenuh hati memberikan contoh baik, memberikan pengarahan dengan senyuman, dengan sigap mengambil keputusan untuk menghasilkan yang terbaik untuk pencapaian tujuan mereka.

Menjadi dirijen ataupun anggota paduan suara adalah salah satu cara seseorang belajar dalam bekerjasama dengan tim yang nantinya sangat diperlukan di dunia kerja. Tetapi tentu saja belajar mengelola tim tidak hanya dapat diperoleh dari paduan suara. Banyak organisasi di kampus yang dapat dijadikan kawah chandradimuka bagi mahasiswa untuk mengasah softskill yang juga sangat mendukung kesuksesan seseorang dalam kehidupan. 

Artikel ini telah terbit di Tribun Jogja, 30 Januari 2023