MENDIDIK DENGAN HATI

Menjadi seorang pendidik baik itu guru, dosen ataupun intruktur berbagai macam pembelajaran adalah suatu pekerjaan yang mulia. Sentuhan dari seorang pendidik dapat mengubah kehidupan para siswanya, baik karena penguasaan pentahuan, keterampilan ataupun pola pikirnya. Semua pendidik tentu mengharapkan kondisi yang ideal, dimana para peserta didik siap untuk menerima apa yang akan diajarkannya bahkan mau aktif untuk berusaha menguasainya.

Dengan demikian mereka akan dengan mudah menguasai capaian pemebalajaran yang diharapkan dan mudahlah baginya untuk menggunakan ilmu yang sudah didapat untuk bekal dalam kehidupannya.

Namun pada kenyataannya, terkadang situasi tidak seindah itu. Seperti kisah dalam film Freedom Writers, film Amerika yang dirilis pada tahun 2007. Film ini mengangkat kisah nyata bagaimana perjuangan seorang guru bernama Erin Gruwell untuk bisa merubah cara pikir dari pada muridnya. Gruwell sebagai guru baru mendapatkan tugas untuk mengajar kelas 203 yang murid-muridnya merupakan murid yang dianggap tidak mampu, murid yang dianggap beban bagi sekolah karena kebandelan mereka. Dalam satu kelas terdiri dari 3 kelompok yang berbeda ras, yaitu ras kulit hitam, ras kulit putih dan ras asia. Tiga kelompok ini saling bermusuhan sehingga suasana kelas menjadi luar biasa tidak menyenangkan. Alih-alih mereka konsentrasi belajar, perkelahian di dalam kelas kerap terjadi diantara mereka, bahkan diluar sekolah mereka terlibat geng yang sering bentrok dengan senjata sehingga ada anggota geng yang harus kehilangan nyawa.
Jika Gruwell menggunakan cara biasa, maka pembelajaran di kelas tidak akan pernah terjadi. Rasa hormat yang biasanya guru dapatkan dari para muridnya benar-benar tidak bisa dinikmati oleh Gruwell. Belum lagi tidak ada dukungan dari sekolah dan orang tua. Buku-buku di perpusatakaan tidak diijinkan oleh sekolah untuk dipinjamkan kepada anak-anak bandel tersebut. Sekolah khawatir mereka akan merusaknya. Pertemuan orang tua tidak bisa terjadi karena tidak ada satu orang tua pun yang  mau menghadiri undangannya.
Namun Gruwell menggunakan hatinya untuk mencoba memahami kondisi para muridnya dan dengan kreatif mencari cara untuk membuat para muridnya mau belajar bersamanya, bahkan dia sampai harus bekerja di dua tempat lain demi mendapatkan dana untuk mendukung pembelajaran para muridnya. Dia membelikan buku untuk muridnya. Dia membuat game dalam pembelajarannya lalu dia memberikan kesempatan pada murid-muridnya untuk menuliskan apa yang menjadi kegundahan hati mereka dalam sebuah jurnal diary. Dia mengajak anak-anak itu ke museum bahkan mempertemukan mereka dengan para tokoh yang dapat menginspirasi mereka. 
Hasilnya luar biasa, dari mereka yang sudah tidak ada harapan akan kesuksesan, mereka yang hanya berfikir bagaimana memenangkan kelompoknya dalam perkelahian, akhirnya berhasil menjadi sekelompok orang yang saling mendukung satu sama lain. Bersama Gruwell para murid itu bahkan berhasil menulis buku tentang pengalaman hidup mereka untuk menginspirasi orang lain. Buku mereka diberi judul “The Freedom Writers Diary”. Bahkan pada akhirnya mereka bersama-sama membuat yayasan bernama “Freedom Writers Foundation”. Yayasan ini bergerak untuk memberikan metode pembalajaran yang lebih baik di sekola-sekolah dengna menggunakan prinsip toleransi.
Permasalahan yang kita hadapi saat ini tentu berbeda dengan yang dihadapi oleh Gruwell saat itu. Tetapi dalam setiap kelas, kita akan memiliki tantangan-tantangan tersendiri. Untuk sekolah atau perguruan tinggi yang bukan termasuk unggulan permasalahannya diantaranya adalah pada kemampuan dasar peserta didik sebelum masuk pembelajaran dan juga motivasi pembelajaran. 
Untuk sekolah atau perguruan tinggi yang sudah memiliki nama besar akan dengan mudah mematok standar minimal calon peserta didiknya. Dengan demikian mereka yang berhasil masuk sebagai siswa atau mahasiswa adalah mereka yang memang memiliki kemampuan akademik tinggi. Mereka yang tanpa diberikan pembelajaran ekstra pun sudah dapat menguasai sebagian ilmu yang akan diajarkan. Mereka juga memiliki dasar kemampuan yang baik sehingga dengan mudah mempelajari hal-hal baru. 
Hal ini berbeda bagi sekolah atau perguruan tinggi yang belum cukup punya nama besar atau  yang memang memiliki misi untuk membantu memberikan kesempatan belajar kepada siapa saja, termasuk mereka yang masih belum memiliki kemampuan dasar yang cukup. Tentu saja gap antara kemampuan awal dan kemampuan akhir yang diharapkan akan sangat jauh, dan ini memerlukan usaha yang sangat ekstra untuk bisa mendorong dan memfasilitasi peserta didik untuk mencapai itu.
Masalah lain adalah motivasi. Mereka yang diterima sebagai peserta didik terkadang belum memiliki kemampuan yang cukup kuat. Ada yang mengikuti pembelajaran hanya karena merasa diharuskan. Mereka harus sekolah atau harus kuliah, karena prestise ataupun keperluan lain. Terkadang keinginan juga bukan dari mereka sendiri tetapi karena dorongan bahkan paksaan orang tua. 
Motivasi merupakan modal utama untuk kesuksesan pembelajaran. Bagaimana mereka bisa menerima apa yang diajarkan kalau mereka tidak ada keinginan untuk menerimanya. Dengan demikian tugas dari lembaga pendidikan dan para pendidik sebelum melakukan proses pembalajaran adalah meningkatkan motivasi para peserta didiknya.
Di Universitas AMIKOM Yogyakarta, untuk program D3 dan S1 ada kegiatan Pelatihan Super Unggul yang diberikan kepada semua mahasiswa secara berkelompok sebelum proses perkuliahan sesungguhnya dimulai. Untuk mahasiswa pascasarjana pemberian motivasi dilakukan dalam kegiatan pembekalan mahasiswa baru.
Setelah proses tersebut, tentu saja motivasi perlu terus dipelihara. Setiap dosen yang mengajar diberikan tugas untuk terus menjaga motivasi mahasiswa, melihat berbagai permasalahan dari para mahasiswa dan berusaha secara kreatif menemukan solusi sehingga pembelajaran dapat dilakukan dengan baik. Semua itu tentu saja tidak cukup dengan adanya aturan, tidak cukup dengan besaran gaji tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana setiap pendidik bisa melakukan tugasnya dengan hati. 

Artikel ini telah terbit di Tribun Jogja, 15 Februari 2021